hasimJakarta, LiputanIslam.com — Hashim Djojohadikusumo, adik kandung Prabowo Subianto akhirnya mengungkapkan kelegaan hatinya pasca berbagai kemenangan yang dicapai oleh Koalisi Merah Putih (KMP) di Parlemen. Hal ini ia nyatakan dalam wawancaranya dengan Richard C. Paddock, seorang jurnalis Wall Street Journal.

Menurut Hashim, ini adalah masa ‘payback’ atas kekalahan Prabowo dalam perhelatan Pilpres pada 9 Juli 2014.

Seperti diketahui, KMP yang terdiri dari Partai Gerindra, Partai Golkar, PKS, PAN, dan PPP, menguasai mayoritas suara di Parlemen. Partai Demokrat yang berkomitmen menjadi penyeimbang juga cenderung mendekat kepada KMP. Berbagai kemenangan KMP atas Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang mendukung presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo dan Jusuf Kalla, diantaranya adalah disahkannya revisi UU MD3, revisi Tatib MPR, UU Pilkada dan penguasaan atas kursi pimpinan DPR. (Baca: Ini Dia Empat Kemenangan KMP)

“Tujuan jangka panjang kami untuk lima tahun ke depan adalah berperan sebagai active, constructive opposition,” ujar Hashim.

“Ya, untuk Pak Jokowi, ada ‘harga’ yang harus dibayar,” tambahnya.

Hashim menyatakan, sikapnya ini disebabkan lantaran sepak terjang Jokowi yang dianggapnya berkhianat. Sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, ia mengaku telah mendukung Jokowi secara finansial pada pemilihan gubernur DKI Jakarta dua tahun lalu.

Ia menegaskan, bahwa Jokowi telah berjanji akan menyelesaikan tugasnya sebagai gubernur dalam waktu lima tahun. Namun siapa sangka, Jokowi dicapreskan oleh PDI Perjuangan dan koalisinya dan keluar sebagai pemenang Pilpres.

“Kami merasa bahwa ia (Jokowi-red) menjadi sangat politis,” jelas Hashim.

Atas berbagai keberhasilan KMP di Parlemen, menurut Hashim, adalah bukti kesolidan partai-partai yang mengusung Prabowo pada Pilpres lalu.

“Hal ini kemudian mengejutkan para pengamat ketika menyaksikan kohesif-nya KMP, “ ujar Hashim.

Hashim menegaskan, bahwa sifat oposisi KMP tidaklah “antagonis.” Namun ia memprediksi, jalannya eksekutif dan legislatif di Indonesia akan terjadi sebagaimana di Amerika Serikat. Partai Republik yang menguasai Parlemen, menggunakan kekuatannya untuk menjegal agenda Presiden Obama yang berasal dari Partai Demokrat.

“Prabowo dan pimpinan partai lainnya akan memimpin sebagai oposisi aktif, kami akan mengontrol agenda legislatif,” tegas Hashim.

Dengan demikian, KMP akan memiliki wewenang untuk melakukan investigasi dalam keberlangsungan pemerintahan Jokowi, termasuk mempengaruhi orang-orang yang akan mengisi pos-pos strategis seperti Kapolri, Hakim MA dan MK.

“Kami memiliki banyak suara dalam menentukan siapa-siapa saja orang yang akan (duduk di pos-pos strategis-red),” tambah Hashim.

Hashim jujur mengakui bahwa pada awalnya, ia dan Prabowo sulit menerima kekalahan pada Pilpres lalu.

“Jujur, kami mengalami masa sulit. Saya tidak berada dalam suasana hati yang baik untuk sementara waktu, dan begitu halnya dengan saudara saya. Kami merasa bahwa kami ditipu oleh berbagai kekuatan. Tapi oke, memang begini aturan mainnya. Dan kami menerimanya,” ujar Hashim.

Namun sekarang, ia merasa jauh lebih baik. “Saya menikmatinya karena kini kami menang,” katanya.

Kini, dengan kekuatannya di Parlemen yang bisa dikontrol oleh Prabowo dan koalisinya, mereka akan solid untuk bertahan sebagai oposisi pemerintahan. Apalagi, Prabowo Subianto masih cukup muda, minggu depan usianya genap menginjak 63 tahun.

“Dia masih cukup muda untuk melakukan berbagai hal,” tutup Hashim. (ph)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL