Sumber: kemenag.go.id

Tangsel, LiputanIslam.com– Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin mengatakan bahwa peran pendidikan agama tidak hanya mencerdaskan atau berorientasi secara kognitif semata. Pendidikan agama harus lebih dari itu, harus mampu berperan dalam membentuk karakter yang baik anak bangsa.

Demikian hal itu disampaikan Kamaruddin pada acara membahas Draft Peraturan Menteri Agama tentang Implementasi Penguatan Pendidikan Karakter yang di hadiri sejumlah pejabat di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam, Biro Hukum Setjen Kementerian Agama, Kanwil Kementerian Agama Provinsi, dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, di Bintaro, Tangsel, pada Kamis (30/5).

“Mencerdaskan pengetahun itu berada pada lapisan pertama, tetapi kecerdasan itu terus diinternalisasi sehingga pendidikan agama menjadi instrument reflektif dan diamalkan dalam kehiudpan sehari-hari,” katanya.

Menurutnya, jika hanya untuk bagaimana cerdas, maka peran guru akan termarginalisasi dan tertinggal. Nanti bisa terganti dengan google atau youtube. Oleh karenanya, guru tidak hanya berorientasi pada ilmu, tetapi juga bagaimana membentuk karakter.  “Bagaimana pendidikan agama itu menjadi instrumen perubahan, transformasi, bagi diri guru, murid dan masyarakat,” ucapnya.

Kamaruddin mencontohkan Jepang yang sangat kuat dalam hal pendidikan karakter. “Meski Jepang itu negara sekuler, tetapi pendidikan karakternya sangat kuat, karena ada rekayasa sosial yang dilakukannya, termasuk melalui Pendidikan,” terangnya.

Baca: Yudi Latif: Pentingnya Membangun Karakter Bangsa

Ia menambahkan bahwa terdapat tiga karakter yang  dikembangkan di Jepang. Pertama, menghargai diri sendiri yang diartikulasikan dengan berbagai implementasi, seperti disiplin, integritas, jujur, dan kuat. Kedua, menghargai orang lain dan mau memberikan pelayanan kepada orang lain. Memberikan pelayanan kepada publik menjadi kebanggaan.

Ketiga, menghargai alam (nature). Lingkungan alam seperti sungai, jalanan, ruang kelas, dan lain-lain dibersihkan masing-masing. “Ketiga nilai ini dikembangkan secara terintegratif, baik di rumah, di sekolah, di masyarakat,” terangnya. (aw/kemenag).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*