Palestinian children lie on the ground as they take part in a rally to show solidarity with Palestinian refugees in Syria's main refugee camp Yarmouk

Sheikh Ramadhan al-Buthi terbunuh, itu adalah perintah Assad!

Saria Hassoun terbunuh, itu adalah perintah intelejen Assad!

Ada bom di Turki, itu adalah ulah milisi pro Assad!

Ada gempa di bulan, itu adalah konspirasi Assad!

Ada alien di angkasa, itu shabiha Assad yang sedang menyamar ! 

Cuplikan kalimat diatas pernah saya (penulis) temui di sebuah thread, yang diposting oleh aktivis pro Pemerintah Suriah. Tulisannya itu, bertujuan menyindir pemberontak dan pendukungnya, yang selalu dan berulang- ulang menimpakan semua permasalahan yang terjadi di Suriah sebagai ‘salahnya Assad’. Tidak tanggung- tanggung, bahkan ketika Israel menyerang gudang senjata Suriah pun ceritanya dipelintir;( katanya Assad diam- diam bekerja sama dengan Israel untuk menyerang gudang senjatanya sendiri karena dikhawatirkan tentara Suriah yang mengontrol gudang senjata tersebut akan membelot ke kubu pemberontak. Akhirnya Assad pun mengambil tindakan, dan Israel menjadi pelayan Assad).  Jadi menurut pemberontak dan pendukungnya, apapun yang terjadi di Suriah adalah salah Assad. Bahkan ketika ada gempa di bulan hingga ada alien yang berkeliaran di angkasa sekalipun, itu ulah Assad. Bagaimanapun kejadiannya harus Assad dan Assad yang salah !

Masalahnya sekarang, bisakah pemaksaan pemahaman seperti itu diterima oleh semua orang?

Menelusuri sebuah konflik, tidak bisa hanya dengan melihat apa yang terjadi hari ini. Tidak bisa hanya melihat dari satu sisi atau satu sumber. Tidak bisa juga bersikap fanatik terhadap salah satu golongan  tertentu hanya karena kita termasuk bagian dari golongan itu. Begitu juga halnya dengan kasus kelaparan hari ini yang terjadi di Yarmouk, apakah Assad lagi yang salah ?

Yarmouk adalah sebuah kamp untuk para pengungsi Palestina di Suriah. Rakyat Palestina tinggal di kamp selama puluhan tahun dengan aman. Di dalamnya, terdapat sekolah, masjid, rumah sakit dan berbagai faslilitas umum lainnya. Seorang warga Palestina yang menetap di Suriah dan kini aktif berjuang di media pernah berkata: “Bagi warga Palestina, hidupnya  di Suriah 1000x lebih baik daripada hidup di negara penampungan lainnya”. Suriah, melayani rakyat Palestina selayaknya warga sendiri. Segala fasilitas yang diberikan untuk Suriah, juga diberikan kepada rakyat Palestina. Meski statusnya adalah pengungsi, rakyat Palestina boleh memiliki properti di Suriah.

Lalu meletuslah pemberontakan ditahun 2011, dan Suriah pun hancur. Apakah hanya rakyat Palestina yang kelaparan dan kurus kering? Tidak, rakyat Suriah pun mengalami nasib serupa.  Penyebab kelaparan mereka (sesuai dengan laporan delegasi Suriah di Jenewa)  antara lain:

1. Suriah, karena belum bisa dikalahkan meski konflik telah berlangsung tiga tahun menyebabkan AS dan sekutunya berang. Mereka mengembargo Suriah, contohnya melarang Suriah mengimpor gandum, sehingga pada akhirnya mereka kesulitan memproduksi kebutuhan pokok bagi rakyatnya.

2. Pabrik roti dan makanan dijarah oleh milisi bersenjata. Informasi seperti ini mungkin tidak akan ditemui di media mainstream, namun aktivis Suriah sangat aktif memberitakan kondisi terkini di negara mereka melalui jejaring sosial, termasuk ketika ada sebuah pabrik roti di Suriah diambil alih oleh militan yang berafiliasi dengan Al-Qaeda

3. Sulitnya distribusi makanan. Pemerintah Suriah mengizinkan semua aktivis kemanusiaan dari seluruh dunia memasuki Suriah. Namun mereka kesulitan menyalurkan bantuan karena mereka dihalangi dan diteror oleh pemberontak. Aktivis yang dilindungi oleh pemerintah menyaksikan sendiri bagaimana kondisi yang terjadi sebenarnya di Suriah.

Bagaimana dengan Yarmouk?

Untuk menjawab mengimbangi tudingan -tudingan miring bahwa Assad lagi  yang salah dalam kasus ini, saya akan mengutip uraian yang disampaikan oleh Daoud Kuttab, seorang jurnalis asal Palestina, kolumnis di Al- Monitor. Saat ini ia menjabat sebagai Direktur Jenderal Community Media Network, sebuah organisasi non- profit yang didedikasikan untuk memajukan media independen di kawasan Arab.

*****

Yarmouk Camp, salah satu kamp yang terbesar di Suriah telah menjadi target pengepungan selama berminggu- minggu. Itu disebabkan karena beberapa kekuatan oposisi bersembunyi di sana dan pasukan pemerintah melakukan pengepungan dengan ketat.

Selama berminggu-minggu, TV Palestina memonitor pengepungan Yarmouk secara nonstop. Para pemimpin politik yang melakukan manuver, berita status pengiriman makanan diupdate setiap jam dan kampanye penggalangan dana juga telah dimulai. Save Yarmouk  tidak terbatas hanya pada TV Palestina. Media sosial, kelompok-kelompok lokal, demonstran dan masyarakat di dalam Palestina dari pendukung kedua belah pihak yang sedang bertikai ditugaskan untuk memberikan perhatian kepada Yarmouk Camp

Yang luar biasa dari aksi Save Yarmouk ini adalah, solidaritas untuk rakyat Palestina yang terkepung menjalar ke semua kelompok politik di Palestina tanpa memandang siapa yang bertikai. Baik Fatah maupun Hamas dan faksi lainnya bergabung dengan iring iringan, mengumpulkan sumbangan dan membuat deklarasi publik. Rakyat Palestina di negara negara lain baik itu di Yordania, Teluk, juga melakukan kampanye dan menggalang dana.

UNRWA, organisasi internasional yang bertanggung jawab bagi para pengungsi Palestina, juga memprakarsai kampanye sendiri untuk membantu Yarmouk. Badan PBB juga melakukan  tiga hari kampanye di media sosial dan sukses, menurut sebuah rilis berita UNRWA, kampanye itu telah ditayangkan 31.000.000 kali dan disaksikan puluhan juta orang di seluruh dunia.

Tidak jelas apa yang membuat  Save Yarmouk berhasil mempersatukan Palestina. Seorang anak Palestina di Yarmouk yang memegang sepotong roti yang menjadi icon Save Yarmouk telah menyebar bagai virus.  Kemungkinan lainnya adalah, fakta bahwa pengungsi Palestina terpaksa untuk mencari lagi tempat untuk berlindung setelah bertahun tahun hidup di Yarmouk telah membuat hati mereka begitu terluka.

Secara politis, saat ini menjadi waktu yang tepat untuk melakukan kampanye. Fatah menunjukkan dengan adanya kampanye kepedulian ini adalah jawaban atas rumor yang beredar bahwa Fatah melakukan ‘transaksi’ dengan Israel mengenai pengungsi. Fatah, melalui kampanye ini seakan menunjukkan bahwa masih ada gerakan nasional Palestina yang konsen serta peduli dan berupaya untuk memulangkan semua pengungsi ke tanah air, termasuk pengungsi Palestina di Suriah.

Gerakan Islam Hamas menyerukan kepada semua milisi untuk meninggalkan kamp. Hamas yang kini telah kehilangan pijakan di Suriah setelah tidak bersikap netral lagi atas konflik Suriah, ikut bergabung dalam gerakan Save Yarmouk untuk menunjukkan bahwa Hamas masih peduli dengan pengungsi Palestina di Suriah.

Ironisnya, sementara Hamas yang  pernah menjadi sekutu dekat rezim Suriah sebelum akhirnya berubah posisi, PLO dan afiliasinya yang lebih netral dalam konflik Suriah lebih mudah mendapatkan makanan untuk disalurkan ke dalam kamp. Yarmouk Camp kini hanya dihuni oleh kurang dari 50.000 jiwa, sebelum konflik kurang lebih 150.000 jiwa.

Kemarahan dan frustrasi rakyat  Palestina telah membuahkan hasil. Beberapa bantuan pun mengalir untuk kamp Palestina, tapi sayangnya tidak terlalu lama bisa menarik nafas lega. Menurut Associated Press,  setelah sejumlah konvoi berhasil masuk, tembakan demi tembakan menargetkan truk bantuan. Meskipun begitu, halangan demi halangan tidak menghentikan kampanye kemanusiaan untuk menyelamatkan Yarmouk. Hikmah terbesar sekaligus keberhasilan terbesar dalam peristiwa ini adalah masing- masing pihak yang tidak akur dalam internal Palestina, kini telah kembali fokus untuk berjuang demi Palestina, karena di luar sana di pengungsian, rakyat Palestina masih tinggal di luar rumah dan tanpa perlindungan dari negara asalnya.

*****

Mungkin, saat ini bukanlah hal yang tepat untuk saling salah menyalahkan. Apalagi, masing -masing pihak yang bertikai memiliki alasan masing- masing. Namun jika harus menyalahkan pun, setidaknya berdasarkan data yang valid dan argumen yang masuk akal. Pihak pemerintah Suriah, telah dengan tegas mengumumkan kepada dunia bahwa mereka akan memerangi terorisme. Pernyataan mereka bukan tanpa alasan. Kita sudah melihat sendiri bagaimana Suriah yang aman dan damai kini menjadi negara hancur setelah teroris tersbut bertamu ke Suriah. Tentang terorisme coba kita tanyakan pada rakyat Bali yang pernah menjadi korbannya. Bali yang begitu indah dan penuh daya tarik mendadak menjadi kota mati, ekonomi hancur, pengusaha kecil hingga menengah gulung tikar, para petani, sayurnya membusuk dan masyarakatnya banyak yang stress hingga bunuh diri. Itu baru satu tempat yang terkena bom, lalu bagaimanakah kondisi Suriah yang bom meledak dimana mana? Apakah salah pemerintah sah Suriah membasmi pengacau negaranya?

Sedangkan pemberontak, mereka tengah berhalusinasi. Mereka mengira bahwa mereka tengah berjihad di Suriah memerangi rezim thagut, syiah atau kafir kendatipun yang mereka bunuh adalah ulama -ulama ahlussunah, kendatipun yang jadi korbannya adalah rakyat sipil yang tidak berdosa. Mereka masih tidak berhenti bermimpi sedang mendirikan sebuah Daulah Islam dengan segala kebaikannya. Pertanyaannya sekarang adalah, Daulah Islam seperti apa yang didirikan dengan mengorbankan banyak jiwa  dan segala kerusakan lainnya? Mereka tidak belajar dari Libya, setelah Ghadaffi tumbang, tidak ada khilafah Islam yang  terbentuk. Justru, Libya kini diperintah oleh boneka Barat. Kini mereka mengulangi kesalahan yang sama di Suriah, mereka bermandikan darah rakyat Suriah, dan dengan tangan penuh darah tersebut, mereka menuduh Assad yang membantai rakyatnya. Sungguh, pertunjukan yang jauh dari lucu. (liputanislam.cm/almonitor/AF)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL