green-army-command

LiputanIslam.com — Sudah terjatuh, ditimpa tangga lalu terperosok ke dalam jurang, mungkin adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan kondisi rakyat Libya hari ini. Intervensi kemanusiaan oleh NATO yang telah merengut puluhan ribu korban jiwa, disusul dengan datangnya kembali lintah-lintah penghisap minyak Libya, dipimpin oleh seorang boneka Barat, dan kini setelah berlalu dua setengah tahun dari tumbangnya Ghadaffi, tidak ada kedamaian dan kesejahteraan dalam demokrasi yang dulu sangat mereka idam-idamkan. Libya benar-benar terpuruk, konflik bersenjata terjadi dimana-mana, bahkan sekedar untuk berjalan di jalan raya pun akan terasa was-was mengingat banyaknya bom rakitan yang tiap saat bisa meledak tanpa memandang siapa yang melaluinya.

Kondisi mereka yang mengenaskan diperparah dengan bungkamnya media-media di seluruh dunia untuk mengabarkan kondisi Libya terkini. Tidak banyak yang mengabarkan bahwa di sebelah selatan Libya dikuasai penuh oleh  gerakan perlawanan yang pro Ghadaffi, dan mereka yang menamakan dirinya Green Resistance (untuk selanjutnya disingkat GR), bertekad untuk mengusir NATO dan para pengkhianat dari negeri mereka.

 

Seruan dari Pemimpin Green Resistance

Tidak seperti di Suriah yang hiruk pikuk, Libya begitu sepi. Tidak heran jika kemudian pemimpin dari Green Resistance  (GR) yang namanya tidak disebutkan menyerukan kepada para blogger yang bukan warga negara Libya untuk membantu mereka. Mungkin perlu diulangi, mereka minta para blogger yang bukan warga negara Libya untuk membantu menyampaikan pesan-pesan mereka kepada masyarakat dunia. “Teman-teman kami yang terkasih harus tahu, bahwa kini kami sedang berjuang membebaskan negara kami dari AS, NATO dan teroris dari jaringan Islam radikal,” demikian sepenggal pesan mereka bulan lalu. Sangat rasional. Bandingkan dengan Sheikh Muhammad Arifi yang merupakan warga negara Arab Saudi menyerukan ke seluruh dunia untuk berjihad ke Suriah melawan Bashar al-Assad, sehingga berbondong-bondong jihadis dari seluruh dunia bertempur di Suriah.  GR Libya menyadari, bahwa sebesar apapun kekuatan senjata akan ada masa ‘tumpulnya’. Sedangkan kekuatan pena, tidak akan pernah lapuk ditelan waktu.

GR Libya sampai sejauh ini belum terdeteksi menggunakan cara-cara ataupun metode yang seperti dilakukan oleh pemberontak di Suriah dalam melakukan propaganda. Tidak ada foto palsu ataupun video palsu, tidak ada tuduhan-tuduhan yang dibuat-buat atas musuh mereka, tidak ada cerita ‘halal makan daging kucing maupun anjing’ seperti yang terjadi di Suriah. Meskipun hanya mengandalkan sisa-sisa kekuatan yang berhasil mereka bangun di bawah tanah, keberadaan GR mampu melemahkan pemerintah Libya apalagi setelah Sabha, kawasan Libya di selatan dikuasai penuh oleh GR Libya. Dibombardirnya kota tersebut oleh pilot yang berasal dari Qatar (karena tidak ada satupun pilot Libya yang sanggup untuk menerbangkan pesawat tempur untuk menjatuhkan bom ke negara mereka sendiri), tidak berhasil melemahkan GR Libya. Mereka mengklaim bahwa sudah ratusan tentara bayaran NATO mereka tewaskan, dan lusinan sudah mereka tahan. Lebih lanjut, GR juga menegaskan bahwa mereka sudah membangun jembatan, memiliki tekhnologi yang canggih dan persenjataan yang melimpah di sebuah tempat yang aman.

 

Rakyat Libya anti Islam Radikal

Mau tak mau kita harus jujur mengakui, bahwa Ghadaffi bukanlah sosok yang ‘bersih dari dosa’. Sebut saja, sikap diktatornya selama memimpin Libya. Namun di sisi lain, dibawah pemimpin yang diktator, Libya menjelma menjadi negara memiliki taraf kehidupan yang baik. Rakyatnya sejahtera, dan tidak ada kelompok radikal yang bisa hidup di wilayah Libya. Berbeda dengan kondisi Libya hari ini, sejak bulan lalu pimpinan puncak Al-Qaeda al-Zahwahiry dikabarkan tengah berada di Libya, dan keberadaannya sendiri memicu ketegangan yang lebih besar.

Apa yang dilakukan Al-Qaeda di Libya? Menurut laporan Libyan Free Press, 95 % rakyat Libya anti gerakan radikal yang mengatasnamakan agama. Pada pemerintahan Ghadaffi, ektremisme dilarang keras. Namun tersisa 5% dari rakyat Libya yang merupakan golongan ekstremis, dan sudah bisa ditebak bahwa kelompok ini disponsori oleh NATO, AS dan sekutunya. Namun mengingat jumlah 5% ini tidak akan cukup kuat untuk menghancurkan Libya, maka aliansi dari NATO dan AS pun dikabarkan mengirim 250.000 teroris al-Qaeda menuju Libya. [Catatan redaktur: informasi teroris asing di Libya memang benar adanya, namun mengenai angka yang akurat diperlukan data yang lebih spesifik yang dikeluarkan oleh badan resmi].

 

Sepak terjang Ikhwanul Muslimin di Libya dalam pandangan Green Resistance

Bulan lalu, dalam kondisi pemerintahan yang sedang carut marut dengan adanya pemberontakan dari GR Libya, secara mendadak Ikhwanul Muslimin yang menggunakan Partai Keadilan dan Pembangunan sebagai basis politiknya malah  menarik lima orang menterinya yang berada dibawah pemerintahan  Perdana Menteri Libya Ali Zeidan. Sebagai bagian dari pemerintah, langkah ini sangat mengherankan. Saat dalam kondisi sulit seharusnya IM bekerja lebih keras membantu pemerintahan tetap bertahan, namun itu tidak mereka lakukan.  GR Libya merespon peristiwa ini [mungkin] sambil nyengir, dan berkata; “IM memang sengaja meninggalkan Ali Zeidan, dan bahkan akan membantu proses jatuhnya, sehingga mereka bisa naik ke puncak tertinggi dan menguasai Libya secara penuh.”

Dalam pandangan GR Libya, Ikhwanul Muslimin adalah kelompok teroris yang berhasil menyusup ke dalam pemerintahan, disamping adanya teroris-teroris lain yang menamakan dirinya Anshar al-Sharia dan Al-Qaeda. Baik Anshar al-Sharia maupun Al-Qaeda sudah dilabel ‘teroris’ oleh Amerika Serikat, lalu mengapa AS tidak mau membantu pejuang GR Libya yang juga sedang memerangi teroris di negaranya?

Perjuangan GR Libya sangat berat. Mereka dihadapkan pada lawan-lawan tangguh dari berbagai kelompok. Mereka harus melawan tentara pemerintah, NATO dan aliansi, hingga kelompok Islam radikal. Bagi GR Libya, tanah air Libya adalah milik mereka bukan milik negara lain yang sesuka hatinya menancapkan kuku dan mengeruk isi perut Libya dalam-dalam. GR melawan, karena mereka memang harus melawan, sebagaimana para pejuang kemerdekaan Indonesia di jaman penjajahan juga berjuang mengusir Belanda dari tanah airnya. Satu hal yang sangat menarik, perpecahan di dalam internal pemerintahan baru Libya serupa dengan arus konflik yang belum berakhir di antara para pemberontak Suriah. Ya, meski pada awalnya mereka memiliki musuh yang sama, namun perlahan karena ideologi takfiri yang telah mendarah daging di dalam tubuhnya, tidak mampu menjembatani perbedaan pandangan diantara mereka. Pada akhirnya, kelompok-kelompok yang bertikai ini akan saling serang dan saling bunuh, tidak peduli di Libya ataupun di Suriah maupun di tempat lainnya, tidak peduli mereka sudah sampai pada tujuannya atau belum, seperti yang pernah diungkapkan oleh Mr Moallem pemimpin delegasi Suriah dalam perundingan Jenewa II, “For terrorism knows no religion, and it’s loyal only into itself –  terorisme itu tidak memiliki agama/ tidak beragama, dan [ideologi mereka] hanya tunduk kepada dirinya sendiri.” (LiputanIslam.com/AF)

 

 

 

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL