Sumber: medcom.id

Nusa Tenggara Timur, LiputanIslam.com— Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan defisit neraca perdagangan yang mencatatkan angka terparah sepanjang Indonesia merupakan persoalan besar.

“Yang namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan itu memang persoalan besar kita. Bolak balik saya sampaikan,” kata dia di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Senin (20/5).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan pada April 2019 mencapai 2,5 miliar dolar AS. Angka ini merupakan yang terdalam sepanjang sejarah Indonesia.

Baca: Neraca Perdagangan Defisit, Rupiah Melemah Rp 14.463 per Dolar AS

Untuk itu, Jokowi meminta seluruh pihak mendorong peningkatan ekspor, termasuk memproduksi barang-barang substitusi impor.

“Tapi rumusnya, kalau ekspor tidak meningkat, kemudian barang subtitusi impornya tidak diproduksi sendiri di dalam negeri, mau sampai kapan rampung?,” ujarnya.

Dia menyampaikan, permasalahan defisit neraca perdagangan terletak pada industrialisasi dan hilirisasi.

“Jangan sampai kirim barang mentah (raw material) ke luar negeri. Semuanya harus ada nilai tambah di dalam negeri. Kuncinya di situ saja,” ungkap Jokowi.

Dia menuturkan, pemerintah telah berupaya untuk menekan defisit neraca perdagangan. Salah satunya adalah avtur dan solar yang sudah tidak impor lagi.

“Contohnya avtur. Sekarang nggak impor, nanti mulai bulan depan udah nggak ada impor avtur dan solar,” tuturnya. (sh/cnnindonesia/cnbcindonesia)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*