Foto: Jakarta Post

Foto: Jakarta Post

Nusa Dua, LiputanIslam.com — President Susilo Bambang Yudhoyono mengadakan pertemuan selama dua jam dengan presiden terpilih Joko Widodo di Nusa Dua, Bali. Ia menunjukkan kesediaannya untuk membantu Jokowi selama periode transisi, namun sinyal jelas yang ditunjukkan SBY adalah, ia tidak akan menaikkan harga BBM bersubsidi sebagaimana yang diharapkan Jokowi. (Baca juga: Jokowi Hendak Naikkan Harga BBM, Mengapa?)

Pertemuan ini merupakan pertama kalinya diadakan antara kedua pemimpin ini sebelum pemerintahan baru yang dipimpin Jokowi mengambil alih kekuasaan pada Oktober mendatang. (Baca juga: Jusuf Kalla: Harga BBM Harus Segera Dinaikkan)

SBY menyatakan bahwa mereka mendiskusikan berbagai isu dalam pertemuan tersebut, termasuk APBN pada tahun 2014-2015, namun tidak membahas hal-hal teknis. Sebaliknya, ia telah menginstruksikan kepada para menteri dalam kabinet dan seluruh pejabat pemerintah terkait untuk mengatur pertemuan rutin dengan tim transisi Jokowi. (Baca juga: Rencana Jokowi: Terbitkan Kartu Subsidi untuk Petani dan Nelayan)

“Dengan membuka ruang dan kesempatan untuk konsultasi, tim transisi Jokowi dapat berkomunikasi secara resmi dengan pemerintah,” kata SBY dalam konferensi pers di The Laguna Resort and Spa di Nusa Dua, seperti dilansir The Jakarta Post, 28 Agustus 2014.

Ia menambahkan bahwa tidak ada persoalan teknis yang dibahas lantaran pertemuan itu bukan forum untuk bernegosiasi. Pernyataan SBY mengacu pada permintaan Jokowi untuk membantu meringankan beban defisit APBN dengan menaikkan harga BBM bersubsidi. (Baca juga:  Dulu Menolak, Kini PDI Perjuangan Dukung Kenaikan Harga BBM)

Lalu, bagaimana komentar Jokowi?

“Pertemuan ini berlangusng dua jam, jadi semuanya dibahas [termasuk harga BBM],” kata Jokowi seusai pertemuan. Ia menambahkan bahwa ia telah mengajukan sejumlah pertanyaan kepada SBY mengenai APBN 2015.

Pemerintah memberikan kuota BBM bersubsidi sejumlah 46 juta kiloliter pada tahun ini, yang terdiri dari 29 juta kiloliter premium, 900.000 kiloliter minyak tanah dan 16 juta kiloliter solar. (Baca juga: Mafia Minyak dan Kebohongan BBM Subsidi)

Dalam beberapa minggu terakhir, banyak daerah telah menghadapi kekurangan pasokan BBM bersubsidi dari Pertamina, tetapi Pertamina bersikeras bahwa hal itu harus dilakukan untuk menghindari pelanggaran kuota sebelum akhir tahun. Namun dilain pihak, pada Selasa malam, 27 Agustus 2014, Pertamina mencabut pembatasan penjualan BBM bersubsidi di seluruh Indonesia. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL