Sumber: republika.co.id

Bogor, LiputanIslam.com– Peneliti Manuskrip Nusantara, Mahrus mengatakan bahwa perkembangan Islam di Cirebon (Jawa Barat) mencapai puncaknya pada masa Syekh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Namun, sebelum itu sebenarnya sudah ada penduduk Cirebon yang memeluk Islam secara diam-diam dan belum terbuka.

“Setelah Syekh Syarif Hidayatullah, pengaruh para penguasa Cirebon masih berlindung di balik kebesaran nama Syarif Hidayatullah,” katanya di Bogor, Jawa Barat pada Selasa (25/6).

Sunan Gunung Jati mendapatkan tugas berdakwah di Cirebon (Jawa Barat), Banten, dan Sunda Kelapa (Jakarta). Tugas dirumuskan berbunyi Kanjeng Susuhunan ing Gunung jati ing Cirebon, amewahi donga hakaliyan mantra, utawi parasat miwah jajampi utawi amewahi dadamelipun tiyang babad wana. Artinya, Sunan Gunung Jati di Cirebon mengajarkan tata cara berdoa dan membaca mantra, tata cara pengobatan, serta tata cara membuka hutan.

“Sebagai bukti-bukti kejayaan kepemimpinannya antara lain Masjid Merah Panjunan (1480) dan masjid Agung Sang Cipta Rasa (1500),” ujarnya.

Menurutnya, pada masa Sunan Gunung Jati  (1479-1568) memimpin Cirebon, bidang politik, keagamaan dan perdagangan maju dengan sangat pesat. penyebaran Islam ke Banten sekitar tahun 1525-1526 melalui penempatan salah seorang putra Syekh Syarif Hidayatullah bernama Maulana Hasanuddin.

Baca: Dari Manuskrip Kuno Terbukti Kecerdasan Bangsa Indonesia

Perkembangan Islam juga dilakukan ke arah Priangan Timur, di antaranya ke wilayah Kerajaan Galuh sekitar tahun 1528, kemudian ke Talaga sekitar tahun 1530. “Jika dipetakan, wilayah perkembangan Islam pada era itu meliputi wilayah Indramayu, Karawang, Bekasi, Tangerang dan Serang di Banten,” ungkap Mahrus. (aw/republika).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*