rudal iranLiputanIslam.com — Selama perang delapan tahun perang melawan Irak yang dipimpin Saddam Hussein, kota-kota dan pedesaan di Iran hancur lebur. Kompleks perumahan, rumah sakit, hingga sekolah, rata oleh rudal musuh.

Rasa sakit ini memunculkan sebuah motto baru pada rakyat Iran untuk tetap bertahan hidup. “Balasan terhadap rudal adalah rudal”, hal ini yang selalu diucapkan berulang-ulang dari rakyat dan komandan militer Iran selama perang.

Rakyat Iran, dalam sebuah aksi unjuk rasa yang dihadiri oleh jutaan massa berteriak, “Balasan atas sebuah rudal adalah rudal.” Tetapi tuntutan mereka tidak terpenuhi, karena Iran tidak memiliki rudal. Sementara dunia hanya menjadi penonton.

***

Setelah menunjukkan keprihatinan atas program nuklir Iran (yang dianggap mengancam perdamaian dunia), AS dan sekutunya negara-negara Arab kini khawatir tentang program rudal Iran. Seperti diprediksi, setelah perjanjian nuklir berhasil disepakati dan diimplemantiskan dalam Joint Comprehensive Plan of Action (JPOA), AS kembali mempersiapkan masalah berikutnya: program rudal Iran.

Tanggal 7 April lalu, Menteri Luar Negeri AS John Kerry berkomentar tentang aktivitas rudal balistik Iran. “Kami menyatakan dengan sangat jelas kepada Iran bahwa kami siap untuk bekerja untuk menemukan solusi damai untuk masalah ini. Kami menanti agar Iran memberikan penjelasan kepada semua orang, bahwa mereka siap untuk menghentikan aktivitas seperti ini yang menimbulkan banyak pertanyaan tentang niat dan kredibilitas Iran.”

Tampaknya cukup konyol jika kita memikirkan hal ini dengan seksama. Bagaimana tidak, AS adalah produsen dan eksportir senjata dan peralatan militer terbesar di dunia. AS memiliki sistem rudal yang paling canggih, namun merasa khawatir dengan program nuklir Iran! Bahkan yang lebih menggelikan, AS berharap agar Iran memahami kekhawatiran mereka yang tak beralasan, bahkan mereka menyatakan kesiapan untuk menyelesaikan masalah. Menlu AS juga meminta klarifikasi terhadap tujuan dan niat Iran terkait program rudal.

Apa tujuan penggunaan rudal? Tidakkah cukup jelas? AS menggunakan rudalnya dengan sikap yang agresif, sementara Iran untuk mempertahankan diri. Tidakkah AS menyadari hal ini? Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, AS berusaha untuk menjadikan kekhawatirannya sebagai masalah internasional dengan dukungan dari sekutu-sekutu Arab-nya.

AS khawatir tentang sistem rudal Iran; dan mereka memiliki hak untuk khawatir, karena sistem rudal Iran tentu akan membuat mereka sadar, siapa yang sedang mereka hadapi. Iran dengan rudal balistik jelas berbeda dengan Iran yang tanpa rudal. Karena memiliki rudal balistik, Iran tidak akan diperlakukan sebagaimana AS dan sekutunya memperlakukan Yaman, Irak, dan Afghanistan. Oleh karena itu, dalam menghadapi Iran, AS harus melupakan opsi militer yang pernah terletak di atas meja.

Iran pernah mengalami masa-masa yang sangat pahit dan mengerikan, ketika menjadi bulan-bulanan dari Irak yang didukung AS, Uni Sovyet dan sekutu-sekutunya negara Arab. Kala itu, Iran tidak punya rudal untuk melawan. Namun peristiwa getir itu memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Iran harus melawan lupa!

Dewan Keamanan PBB memberlakukan sanksi baru terhadap program rudal Iran, tak lama setelah kesepakatan nuklir dirayakan oleh rakyat Iran. PBB menyetujui sebuah resolusi yang memberlakukan pembatasan pengujian rudal balistik Iran. Awalnya, pemerintahan Presiden Hasan Rouhani tidak menanggapi serius resolusi tersebut, namun seiring waktu, ia menyadari bahwa resolusi itu tidak semestinya diberlakukan. Awalnya program nuklir, lalu program rudal, dan kemungkinan di waktu mendatang, AS akan kembali mencari gara-gara dengan menyoroti moral untuk melegitimasi sanksi. Jelas, hal inilah yang meruntuhkan kepercayaan Iran.

Kemajuan dan kemampuan merupakan sebuah keharusan, karena hal itulah yang bisa mencegah AS menggunakan retorika agresif terhadap Iran.

“Kita tidak boleh membiarkan siapapun memperlakukan Iran dengan cara yang berbeda. Kita tidak memiliki masalah apapun. Sikap Barat bisa membuat kita memetik pelajaran, bahwa selama agresi dan hegemoni menguasai dunia, maka tidak mungkin untuk membangun keamanan tanpa kemajuan militer, khususnya rudal. Atau Anda akan diserbu,” tulis Kobra Asupar di Koran Javan, seperti dikutip IFP (16/4/2016).

Selama delapan tahun, rakyat Iran membayar harga yang mahal, baik secara fisik dan finansial, untuk keganasan global dalam perang Iran-Irak sejak tahun 1980. Sekarang, kita melihat kondisi yang sama mengerikannya di Palestina, Afghanistan, Irak, Suriah, Yaman, dan lainnya.

Maka dari itu, solusi yang disepakati untuk komunitas global harus diimplementasikan secara global. Jika AS dan Israel boleh menggunakan rudal, maka Iran juga boleh melakukannya. Jika sistem rudal AS dan Israel dihancurkan, maka sistem rudal Iran pun harus dihancurkan. Itu baru adil.

Namun kita tahu, bahwa AS dan Israel selalu meningkatkan sistem rudal mereka setiap hari, dan tidak ada satupun yang menghentikan upaya mereka. Mereka bahkan didorong dan didukung. Sementara Iran dengan program rudalnya, terus menerus disebut sebagai ancaman terhadap dunia.

“Lebih baik kalian tetap diam terhadap sistem pertahanan Iran. Balasan bagi sebuah rudal adalah rudal. Negosiasi adalah reaksi untuk negosiasi,” tandas Kobra Asupar. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL