Foto: Kompas

Foto: Kompas

Jakarta, LiputanIslam.com —  Republik Islam Iran, tak mau kalah dari Angola yang telah menekan kerjasama untuk memasok minyak mentah ke Indonesia. Ya, Negeri Mullah tersebut kembali menyatakan kesiapannya bertransaksi minyak mentah ke kilang pengolahan bahan bakar minyak di Indonesia.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Naryanto Wagimin usai mendampingi perwakilan Kementerian Energi Iran bertemu Menteri ESDM Sudirman Said di Jakarta, Kamis, mengatakan pemerintah akan menyiapkan segala sesuatu untuk menindaklanjuti tawaran pasokan crude (minyak mentah) tersebut.

“Kami akan bahas lebih jauh dalam working group (tim teknis),” katanya.

Menurut dia, berdasarkan informasi Kedubes Iran, minyak mentah dari Iran cocok dengan spesifikasi kilang minyak milik PT Pertamina (Persero) di Cilacap, Jawa Tengah.

Selain memasok crude, lanjut Naryanto, Iran juga berkeinginan melanjutkan kerja sama pembangunan kilang pengolahan yang sempat terhenti, melalui skema tetap yakni bekerja sama dengan perusahaan Indonesia dan Iran menyediakan minyak mentahnya.

“Pak Menteri (Sudirman Said) antusias, terutama dengan rencana pembangunan kilang. Beliau minta ini jangan hanya retorika, karena itu dibentuk working group,” ujarnya.

Terkait insentif yang diminta investor, menurut dia, hal itu akan dibicarakan lagi bagaimana keseriusan dan skema insentifnya.

“Saya dapat info ada investor Indonesia yang mau bangun kilang, tapi tidak ada kemajuan,” ujarnya.

Sebelumnya pada 2007, Iran melalui anak BUMN migasnya, National Iranian Oil Refining and Distribution Company (NIORDC), berencana membangun kilang berkapasitas 300.000 barel per hari senilai 6 miliar dollar AS.

Dari laporan Kompas, rencana pembangunan kilang diawali dari pertemuan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dengan mantan Presiden Iran Ahmadinejad, yang sedianya akan dibangun di Bojanegara, Banten, bekerja sama dengan Pertamina.

NIORDC direncanakan memiliki 40 persen saham dalam perusahaan patungan, sementara PT Banten Bay Refinery yang akan membangun kilang. Sisanya 40 persen dikuasai Pertamina dan 20 persen perusahaan Malaysia, Petrofield.

Pembangunan kilang tersebut telah mendapat persetujuan Ditjen Migas Kementerian ESDM pada 27 Mei 2008 dan Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 27 November 2008.

Pada 11 Februari 2014, perusahaan minyak Iran Nakhle Barani Pardis dan PT Kreasindo Indonesia meneken nota kesepahaman senilai USD 3 miliar atau sekitar Rp36,3 triliun untuk pembangunan kilang berkapasitas produksi 300,000 barel/hari di Indonesia. Dan setelahnya, Kepala Persatuan Eksportir Produk Minyak, Gas dan Petrokimia Iran Hassan Khosrojerdi menyatakan Iran berencana membangun enam kilang minyak di Indonesia. (Baca: Iran Akan Bangun 6 Kilang Minyak di Indonesia)

Namun, sampai saat ini, pembangunan kilang tersebut belum terwujud. Akankah kerjasama di sektor energi antara Iran-Indonesia yang tertunda di jaman SBY, akan terealisasi di era Jokowi? (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL