Foto: http://charterforcompassion.org/

Foto: http://charterforcompassion.org/

Banyuwangi, LiputanIslam.com — Banyuwangi, menjadi kota pertama di Indonesia yang mendapatkan predikat Kota Welas Asih, yang ditandai dengan ditandatanganinya Piagam Welas Asih (Charter for Compassion) di Banyuwangi, 5 Agustus 2014.

Turut hadir di acara tersebut, cendekiawan Muslim terkemuka Dr Haidar Bagir dan dai kondang Kh. Abdullah Gymnastiar yang akrab disapa Aa Gym. Dari keterangan situs resmi Charter of Compassion, sekitar 10.000 warga Banyuwangi juga turut meramaikan acara tersebut.

Apa itu Charter for Compassion?

Dari keterangan pengamat Timur Tengah, Dina Y. Sulaeman di Kajian Timur Tengah, Charter of Compassion ini digagas oleh Karen Amstrong, seorang pakar dan penulis yang konsen dalam sejarah dan dialog antar-agama.

Karen mengkampanyekan kasih sayang dan welas asih ke seluruh dunia, termasuk Indonesia pada tahun 2013, guna melawan maraknya berbagai kekerasan, terorisme, ataupun peperangan yang “nol cinta kasih”.

Menurut Karen, esensi Islam dan berbagai agama samawi lainnya, adalah cinta dan welas asih. Esensi ini semakin hari semakin terkubur, dan karenanya, harus ada upaya untuk menggali dan mengamalkannya kembali dalam kehidupan.

Mengapa Banyuwangi layak menjadi Kota Cinta Kasih?

”Banyuwangi berkomitmen menjadi daerah yang penuh cinta, bertaburan kasih sayang, tidak hanya dalam konteks ekonomi tetapi juga secara hubungan sosial antar warganya,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, seperti dilansir Jpnn, 5 Agustus 2014.

Anas menyebut sejumlah program di Banyuwangi sudah merepresentasikan prinsip-prinsip kasih sayang, humanisme, dan kebhinnekaan. Misalnya, pertemuan rutin lintas agama, gerakan Siswa Asuh Sebaya yang menjalin solidaritas antarsiswa, Gerakan Sedekah Oksigen yang melibatkan semua tokoh agama untuk kampanye lingkungan, ambulans 24 jam untuk melayani warga, serta pemberantasan buta aksara dan anak putus sekolah yang menjunjung tinggi aksesibilitas warga dalam menikmati layanan pendidikan.

Selain itu, program-program seperti bantuan permodalan untuk usaha kecil, bantuan benih untuk petani dan pembudidaya ikan, beasiswa untuk siswa dari keluarga miskin dan penyandang disabilitas, bedah rumah, dan gerakan pengentasan kemiskinan lainnya juga menjadi contoh kebijakan publik yang berbasis kemanusiaan.

”Dengan segala kekurangan yang masih ada, kebijakan publik ke depan harus mampu memanusiakan manusia,” ujar Anas.

Anas mengatakan, ajaran agama pada dasarnya mengajarkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Karena itu, mendorong sebuah gerakan kasih sayang hingga ke level daerah menjadi penting untuk menghadapi tantangan bangsa yang semakin kompleks.

”Bagaimana daerah bisa memasukkan prinsip kemanusiaan dalam setiap kebijakan, baik kebijakan ekonomi, sosial, budaya, pariwisata, pendidikan, maupun kesehatan,” tuturnya.

Dia mencontohkan, di bidang pendidikan, para pendidik berkomitmen untuk menjadikan sekolah mereka sebagai sekolah welas asih atau compassionate school. Sekolah yang bebas disktriminasi, kekerasan, aman dan nyaman bagi siswa.

”Pendidik dan pelajar bukan hanya mempelajari tapi juga mempraktikan nilai kasih sayang, cinta, dan menghargai perbedaan. Tumbuh berprestasi bersama-sama, bukan menciptakan persaingan tidak sehat sejak masa kecil,” jelasnya.

Demikian juga di bidang pelayanan publik, dengan menjadi bagian dari Kota Welas Asih, birokrat di Banyuwangi secara berkelanjutan meningkatkan pelayanan dan membangun fasilitas publik yang lebih manusiawi. Program inovatif pelayanan publik telah dilakukan seperti Bayi Lahir Pulang Bawa Akta, One Stop Services, dan SMS Gateway. Ke depan, itu akan diperluas.

”Suara kritis publik diakomodasi, bisa lewat SMS Center, Twitter, maupun pertemuan-pertemuan langsung,” ujarnya.

Dr Haidar Bagir, dalam keterangannya menyatakan bahwa saat ini tiga daerah lainnya, yaitu Jakarta, Bali, dan Bandung, sedang dalam tahap proses untuk menjadi Kota Welas Asih.

”Ini saatnya  membalikkan kehidupan masyarakat yang semakin individualistik menjadi lebih humanis, daerah harus semakin pro-warganya. Ini sudah sejalan dengan program yang telah dijalankan di Banyuwangi,” ujarnya. (ba)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL