Tel Aviv, LiputanIslam.com– Di bawah pengakuan “satu-satunya negara demokratis” di Timur Tengah, militer Israel yang dikenal dengan nama IDF ternyata memiliki hak sensor atas media di negara itu.

Menurut laporan terbaru dari jurnalis Israel, Haggai Matar, yang bekerja di majalah online +972, IDF telah mengontrol konten pemberitaan dan menyembunyikan berita tertentu dari publik.

IDF diketahui terus menerus meningkatkan presentase artikel berita yang disensor, dengan menyunting seluruh atau sebagian dari artikel-artikel tersebut selama setahun terakhir. Tren ini kemungkinan tak akan menurun karena Israel tengah mempersiapkan potensi perang  dengan Gaza, Lebanon dan Suriah.

Laporan Matar yang menggunakan data dari pemerintah ini menemukan bahwa selama setahun terakhir terdapat 271 artikel yang dilarang oleh IDF. 2,358 disunting seluruhnya atau sebagian. Rata-rata, sensor IDF menyunting sebuah artikel berita setiap 4 jam, dan melarang sepenuhnya sebuah berita sebanyak 5 kali perminggu.

Padahal, Israel mengaku sebagai negara yang memiliki “kebebasan pers yang hidup, pluralis, dan secara umum terhormat”.

Sejak pendirian Israel tahun 1948, koran dan media tradisional lainnya di negara ini diwajibkan untuk menyerahkan semua artikel yang berhubungan dengan keamanan nasional dan hubungan luar negeri kepada badan sensor IDF sebelum dipublikasi.

Seperti yang dilaporkan oleh +972, “Israel adalah satu-satunya negara [demokrasi] di mana jurnalis dan penerbit harus menyerahkan tulisan mereka untuk diperiksa di IDF sebelum publikasi, dan satu-satunya di mana penyesoran dapat dipaksa secara keras.”

IDF juga diketahui punya kekuasaan untuk menyensor buku-buku dan terbitan lainnya. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*