Sumber: kumparan.com

Jakarta, LiputanIslam.com— Pemerintah berencana memindahkan ibu kota ke luar Jakarta. Salah satu alasannya karena kondisi Jakarta yang selalu macet. Jadi, dengan pindahnya ibu kota diharapkan kemacetan dapat teratasi.

Akan tetapi, menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, pemindahan ibu kota bukan solusi yang tepat untuk mengatasi kemacetan di Jakarta.

Dia menilai, Jakarta tidak akan banyak berubah meskipun tidak lagi sebagai ibu kota. Sebab, Jakarta bukan hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi juga pusat bisnis.

“Pemindahan ibu kota itu bukan solusi utama untuk mengatasi macetnya Jakarta, banjirnya Jakarta, bukan. Semua itu diatasinya ya dengan penataan kota, bukan pindah ibu kota,” kata Bhima, Minggu (19/5).

Baca: Calon Ibu Kota di Kaltim Aman Tsunami, Tapi Ada Sumber Gempa

Dia menjelaskan, kepadatan lalu lintas di Jakarta terjadi lantaran jumlah kendaran pribadi yang semakin banyak ketimbang jumlah kendaraan dinas.

“Total kendaraan pribadi di Jakarta 17 juta unit, sementara kendaraan dinas 140 ribu unit. Apakah berpindahnya para PNS kementerian keluar Jakarta signifikan kurangi kemacetan? Jawabannya tidak sama sekali,” jelasnya.

Menurut Bhima, pemerintah harus mengembangkan moda transportasi masal yang semakin layak untuk mengatasi kemacetan. Selain itu, interkoneksi antar moda juga harus dilakukan demi memudahkan masyarakat dalam menggunakan angkutan umum.

Sementara itu, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil mengatakan, Jakarta merupakan kota bisnis. Jadi jika tidak dipindahkan, beban Jakarta akan semakin besar.

“Nanti Jakarta ini jadi kota bisnis. Tanpa dipindahkan ibu kota beban Jakarta akan semakin besar. Tapi begitu dipindah ibu kota bikin universitas yang bagus sekolah yang bagus kemudian orang tidak semua harus datang ke Jakarta,” katanya.

Dia menyampaikan, jika ibu kota pindah, banyak orang yang akan mengadu nasib ke ibu kota baru tanpa harus pergi ke Jakarta. Hal ini akan berefek pada distribusi pertumbuhan ekonomi.

“Nanti ada generasi anak-anak kita mau mengadu nasib di ibu kota mereka tidak pergi ke Jakarta sehingga terjadi redistribusi populasi dan distribusi perumbuhan ekonomi. Dan mudah-mudahan beban Jakarta tidak sebesar ini,” tuturnya. (sh/cnbcindonesia/liputan6)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*