Wina, LiputanIslam.com–Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) baru-baru ini menerima Palestina sebagai anggota baru mereka, sebuah langkah yang otomatis mengakui Palestina sebagai sebuah negara. Langkah ini mendapatkan kecaman dari rezim Israel.

Dirjen IAEA, Yukiya Amano, dan Duta Palestina untuk Austria, Salah Abdul Shafi, menandatangani sebuah perjanjian pada Selasa (18/6) yang memungkinkan para inspektur IAEA melakukan pemeriksaan keamanan pada bahan radioaktif dan bahan nuklir fisil, seperti uranium, yang berada di Palestina.

Palestina tidak memiliki reaktor nuklir, tetapi mereka menyimpan komponen bahan nuklir pada peralatan medis di departemen fisika di beberapa rumah sakit dan universitas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon, pun menyebut langkah IAEA itu sebagai “pelanggaran terhadap konvensi internasional.”

“Ini adalah upaya lain dari Otoritas Palestina untuk bergabung dengan organisasi internasional untuk mengeksploitasi [organisasi itu] untuk tujuan politik,” katanya.

“Israel tidak menyetujui upaya Otoritas Palestina untuk bergabung dengan organisasi dan institusi seperti itu sebagai sebuah negara, dan Israel memandang ini sebagai pelanggaran terhadap perjanjian internasional,” tambahnya.

Perjanjian IAEA ini diperkirakan akan memicu ketegangan antara Israel dan Otoritas Palestina. Sebab, menurut pandangan Tel Aviv, Palestina tidak layak diakui sebagai sebuah negara karena wilayah dan perbatasan negara yang tidak jelas.

IAEA adalah sebuah organisasi independen yang didirikan pada tanggal 29 Juli 1957 dengan tujuan mempromosikan penggunaan energi nuklir secara damai serta menangkal penggunaannya untuk keperluan militer. Markas IAEA terletak di Wina, Austria, dan beranggotakan 137 negara. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*