Foto: Kompas

Foto: Kompas

Jakarta, LiputanIslam.com — Kendati hutang Indonesia mencapai 3.300 triliun per April 2014,  Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung menyatakan rasio utang luar negeri Indonesia masih berada dalam taraf aman. Menurutnya, jangan melihat hutang dari besarnya angka, namun harus dilihat dari rasio.

“Jangan melihat angka. Lihatlah dari debt to GDP ratio,” ujarnya di kantornya, Rabu, 20 Agustus 2014.

Dari laporan Tempo, Bank Indonesia mencatat hutang luar negeri Indonesia per April 2014, sebesar 3.300 triliun. Hutang luar negeri ini tumbuh sebesar 7,6 persen dibandingkan posisi utang luar negeri April tahun 2013 lalu.

Menurut Chairul, pertumbuhan positif dalam negeri serta masih kuatnya cadangan devisa negara membuat pemerintah tidak khawatir akan adanya gangguan berarti terhadap perekonomian yang dipicu oleh jumlah utang.

“Kan, ekonomi makin besar, utang makin besar enggak ada masalah,” katanya.

Meski demikian, Chairul mengingatkan agar penumpukan utang tidak melebihi besaran produk domestik bruto negara. “Yang penting persentase debt to GDP mengecil,” ucapnya.

Chairul mengakui besarnya subsidi energi dalam nota keuangan rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara yang disampaikan pemerintah beberapa waktu lalu cukup membebani neraca keuangan negara.

“Makanya, kan, sudah dikasih tahu bahwa subsidi itu harus dialihkan dari subsidi barang ke subsidi orang. Dari dulu sudah ribuan kali (diingatkan),” katanya.

Bukankah hutang luar negeri akan membebani APBN?

Hutang luar negeri dapat memberatkan posisi APBN RI, karena  harus dibayarkan beserta dengan bunganya. Dalam jangka panjang utang luar negeri dapat menimbulkan berbagai macam persoalan ekonomi negara Indonesia, salah satunya dapat menyebabkan nilai tukar rupiah jatuh (inflasi).

Saat ini saja, dampak besarnya hutang Indonesia sudah mulai dirasakan. Ekonom dari Bank Central Asia, David Sumual, mengatakan membengkaknya utang akan menyebabkan pendapatan perusahaan tergerus.

“Pendapatan perusahaan bisa tinggi tapi pembayaran bayar hutangnya yang besar dengan dollar,” ujarnya, pada 17 Juli 2014.

Menurut dia, banyak perusahaan yang meminjam uang ketika kurs rupiah pada kisaran di bawah 10 ribu per dolar AS. Namun dengan kurs saat ini yang hampir menyentuh 12.000 per dolar, membuat kinerja perusahaan akan terbebani sehingga membuat laba perusahaan tergerus.  (ba)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL