russiaLiputanIslam.com — Bagi para pengamat internasional, apa yang terjadi di Ukraina saat ini merupakan awal dari perang besar yang melibatkan negara-negara terkuat di dunia. Mulai dari penambahan dan penempatan militer Amerika dan NATO di negara-negara Eropa timur, penumpukan pasukan Rusia di perbatasan dengan Ukraina, hingga insiden terbang rendah pesawat-pesawat tempur Rusia di atas kapal perang Amerika di Laut Hitam, semuanya mengindikasikan hal itu.

Dan bahwa arena terjadinya mobilisasi kekuatan militer negara-negara besar itu di sekitar Ukraina dan Semenanjung Krimea, hal itu menjadi pengulangan sejarah menjelang Perang Krimea di abad 19 lalu, ketika kekuatan-kekuatan militer negara-negara besar kala itu, Inggris, Perancis, Rusia dan Turki menumpuk di wilayah itu.

Dan akhirnya Presiden Amerika Barack Obama pun telah mengungkapkan retorika perangnya.

“Apa yang selalu saya katakan adalah bahwa setiap Rusia melakukan langkah-langkah untuk mendestabilisasi Ukraina dan melanggar kedaulatannya, akan ada konsekuensi-konsekuensinya. Tidak hanya ketika Rusia telah menganeksasi Krimea secara ilegal, namun juga apa yang telah mereka lakukan dengan mendukung milisi-milisi di Ukraina selatan dan timur,” kata Obama minggu lalu.

“Mereka (sebenarnya) tidak ingin terlibat konfrontrasi langsung dengan kita, karena mengerti bahwa kekuatan militer kita jauh lebih unggul dari Rusia,” tambah Obama.

Namun, pendapat Obama tentang kekuatan militer Rusia itu dibantah secara tegas oleh para ahli militer.

“Apa yang kita lihat dan apa yang mengayun-ayun di hadapan kita adalah adalah indikasi yang kuat bahwa Putin telah bergerak maju,” kata Mayjend (Purn) Robert Scales sebagaimana dikutip The Washington Post, hari Senin (21/4).

Jendral Scales telah mempelajari Spetsnaz, pasukan khusus Rusia yang terlibat dalam aksi pengambil-alihan fasilitas-fasilitas militer Ukraina di Krimea beberapa waktu lalu. Ia pun terkesan dengan perlengkapan militer mereka, yang menurutnya adalah hasil dari modernisasi militer Rusia sejak tahun 2008. Tidak hanya kendaraan lapis bajanya, namun juga perlengkapan personal mereka.

“Mereka memiliki perlengkapan yang lebih modern daripada 5 tahun lalu. Mereka memiliki peluncur granat baru yang mengagumkan. Helm mereka lebih baik dari helm tentara kita. Kendaraan lapis baja mereka lebih tangguh dari milik kita. Mereka telah melakukan banyak kemajuan dan saya terkesan olehnya,” kata Scott Traudt, seorang eksekutif di perusahaan pembuat perlengkapan militer Green Mountain yang berbasis di Vermont, AS.

Menurut Traudt, rompi anti peluru personil militer Rusia telah menjadi ancaman serius bagi pasukan infantri NATO dan Ukraina, karena mampu menahan hantaman senjata kaliber 5,56 mm. Baju lapis baja Rusia itu kini diperkuat dengan pelapis titanium dan keramik “hard carbide boron”.

Namun Amerika tampaknya telah bertekad bulat untuk beradu otot dengan Rusia, sebuah rencana lama yang telah dilancarkan oleh para presiden Amerika setelah Ronald Reagan, yaitu sejak Amerika secara agresif mengembangkan pengaruhnya atas negara-negara Eropa Timur, termasuk negara-negara bekas Uni Sovyet meski hal itu secara telak melanggar kesepakatan sebelumnya dengan Rusia yang tidak menghendaki Amerika mengepung Rusia dan menempatkan negara itu dalam posisi “terjepit”.

“Jika Ukraina terpecah belah dengan wilayah-wilayah selatan dan timur bergabung dengan Rusia, Amerika akan merasa dipermalukan. Untuk menghindarkan ini, Amerika pun berupaya mendorong krisis ini menjadi perang,” kata Paul Craig Roberts, mantan editor senior Wall Street Journal dan Asisten Menkeu AS dalam artikel yang dimuat di situs thetruthseeker.co.uk, “Washington Drives The World To War”.

Craig Roberts merujuk pada kunjungan Direktur CIA ke Kiev beberapa hari lalu, yang diikuti oleh operasi militer Ukraina di wilayah timur Ukraina yang diberi nama “operasi anti-terorisme”. Penamaan itu sendiri telah menunjukkan bahwa Ukraina telah bertekad untuk menghancurkan gerakan pro-Rusia di kota-kota Ukraina timur, tidak peduli bahwa aksi-aksi massa di Ukraina timur tidak berbeda dengan aksi-aksi yang dilakukan rezim Ukraina saat ini, ketika menumbangkan rezim Victor Yanukovych bulan Februari lalu.

Bagi Amerika dan Uni Eropa sendiri, apa yang mereka lakukan di Ukraina merupakan bentuk kebijakan “standar ganda” yang teramat vulgar. Di satu sisi mereka menganggap aksi-aksi massa melawan rezim Yanukovych yang diwarnai pertumpahan darah sebagai “demokratis” dan “patriotis”. Namun ketika rakyat Krimea menggelar referendum damai, mereka menganggapnya sebagai “aksi ilegal”. Bahkan rakyat Ukraina timur yang menuntut referendum kini disebut sebagai “teroris”.

“Washington telah kehilangan Krimea, dimana mereka bermaksud mengusir AL Rusia dari Laut Hitam. Dan alih-alih mengakui kegagalannya merenggut Ukraina seutuhnya, Washington justru mendorong krisis ke tingkat yang lebih berbahaya,” tulis Robert.

Namun Rusia pun telah memberi peringatan bahwa setiap penggunaan kekuatan senjata di Ukraina timur akan mendorong terjadinya perang sipil dan Rusia terpaksa akan turut campur untuk melindungi warga keturunan Rusia. Dengan apa yang telah dilakukan Rusia ketika mengirimkan pasukan untuk melindungi wilayah protektoratnya, Ossetia Selatan, dari serangan Georgia tahun 2008 lalu, peringatan Rusia ini sangat jauh dari sekedar gertak sambal.

Menurut Robert, yang terbaik bagi Rusia adalah segera mengirim pasukan ke Ukraina timur untuk mencegah wilayah itu jatuh ke tangan Amerika dan sekutunya. Amerika dan Uni’Eropa, kata Robert, sama sekali tidak pernah menginginkan krisis Ukraina selesai dengan damai dengan Krimea yang telah jatuh ke tangan Rusia dan pengaruh Rusia yang masih kuat di wilayah timur dan selatan. Dengan wilayah-wilayah tersebut yang telah lebih dahulu jatuh ke tangan Rusia, Amerika dan NATO akan mengalami kesulitan untuk memulai perang

“Rusia tetap akan disalahkan oleh mesin propaganda barat, baik mereka menguasai Ukraina timur ataupun tidak. Namun jika Rusia membiarkan wilayah itu ditindas oleh Washington, harga diri otoritas dan pemerintah Rusia akan runtuh. Mungkin inilah yang menjadi perhitungan Washington,” tulis Robert.

Dan dengan harga diri yang sudah jatuh, pemerintah Rusia tidak akan sanggup bertahan dari serangan mesin propaganda dan agen-agen barat di Rusia, terutama NGO-NGO bentukan barat yang jumlahnya ratusan.(ca/Washington Times/thetruthseeker.co.uk)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL