Foto ilustrasi (tribun)

Foto ilustrasi (tribun)

Jakarta, LiputanIslam.com — Kejaksaan Agung akhirnya memutuskan untuk membatalkan eksekusi mati kepada 5 terpidana kasus narkoba, lantaran 4 dari 5 orang yang akan dieksekusi mengajukan Peninjauan Kembali (PK). Jaksa Agung HM Prasetyo menyatakan bahwa PK adalah hak bagi setiap terpidana, sehingga, eksekusi tidak bisa dijalankan sebelum PK diputuskan oleh MA.

“Ini mereka dulu sudah ajukan PK tapi sekarang ajukan (PK lagi). Saya sudah koordinasi dengan Ketua MA supaya cepat diproses PK nya,” ujar Prasetyo, 24 Desember seperti dilansir detik.com.

Di hari yang sama, Presiden Joko Widodo telah menyambangi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan PP Muhammadiyah, untuk meminta pendapat terkait eksekusi mati kepada gembong narkoba. Kedua ormas Islam tersebut, mendukung penuh langkah Jokowi yang menolak memberikan grasi kepada terpidana mati gembong narkoba. (Baca: Temui Muhammadiyah dan NU, Jokowi Didukung Eksekusi Mati Penjahat Narkoba)

Sementara itu, Kapolri Jenderal Sutarman mengatakan pihaknya sudah siap dengan eksekusi mati para terpidana mati narkoba. Namun Polri harus menunggu instruksi dari Jaksa Agung untuk melakukan eksekusi tersebut.

“‎Eksekusi terpidana mati, Polri adalah eksekutornya. Kita adalah eksekutor penembaknya. Sudah kita siapkan berapapun yang diminta Bapak Jaksa Agung,” ujar Kapolri Jenderal Sutarman di Kantor Presiden, Jl Veteran, Jakarta, Rabu, 24 Desember 2014.

“Pihak kami sudah menyiapkan lokasi-lokasi untuk eksekusi mati tersebut. Dimanapun, di Polda-Polda kita sudah siap. Tergantung Bapak Jaksa Agung ditempatkan di mana, namun sampai saat ini belum ada permintaan soal eksekusi mati,” tambahnya lagi.

Negara Dipecundangi?

Salah satu contoh kejahatan narkoba yang membuat miris adalah yang dilakukan oleh Benny Sudrajat dan keluarganya. Benny dibekuk aparat saat pabrik narkobanya di daerah Cikande, Banten, berhasil pada tahun 2006. Pabrik ekstasi itu, menghasilkan 5.000 butir per hari itu. Akhirnya, Benny dan 8 karyawannya berikut ini dihukum mati.
1. Benny Sudrajat alias Tandi Winardi
2. Iming Santoso alias Budhi Cipto
3. Zhang Manquan
4. Chen Hongxin
5. Jian Yuxin
6. Gan Chunyi
7. Zhu Xuxiong
8. Nicolaas Garnick Josephus Gerardus alias Dick
9. Serge Areski Atlaoui

Namun eksekusi mati tidak juga dilakukan, dan akibatnya, dari balik penjara Benny kembali membangun pabrik narkoba. Dari laporan detik.com, diam-diam Benny kembali membangun jaringannya dari balik sel LP Pasir Putih, Nusakambangan.

Lewat kaki tangannya, Benny bisa kembali membangun kerajaan bisnis haram itu di Pamulang, Tangerang. Tapi pabrik tersebut mengalami kebakaran dan Benny memindahkannya ke Palasari, Cipanas, Cianjur, pada 2009. Setelah itu, mereka lalu juga membangun pabrik narkoba di daerah Petojo, Jakarta Pusat. Ternyata, Benny menggunakan kedua anaknya untuk membangun kembali pabrik narkoba yaitu;

1. Arden Christian Sudrajat
2. Aldo Enrico Sudrajat

Arden sendiri saat itu masih mendekam di LP Pasir Putih karena kasus yang sama. Sehingga Aldo yang kemudian bertugas mencari lokasi yang aman untuk membuat narkotika. Lalu, Benny mendatangkan pria dari Hong Kong bernama Afan untuk meracik sabu-sabu.

Berada di balik penjara dan ditempatkan di pulau terpencil, tidak menghabiskan akal Benny dan anaknya, Arden, untuk bisa mengontrol pabrik narkotika. Keduanya bekerjasama dengan Anne Yuliana, orang yang kerap datang ke Nusakambangan karena membesuk teman lelakinya yang juga dipenjara, Jimmy Hariadi. Anne lalu menggandeng Victor dan Rio dalam membangun pabrik narkoba itu. Afan selaku peracik datang ke Indonesia hanya untuk meracik sabu-sabu. Setelah selesai bertugas selama satu minggu, ia kembali ke Hong Kong. Sehingga total yang terlibat membangun pabrik narkoba Benny jilid II yaitu:

1. Arden Christian Sudrajat (anak pertama)
2. Aldo Enrico Sudrajat (anak kedua)
3. Afan (peracik/DPO)
4. Victor
5. Anne
6. Jimmy Hariadi
7. Rio

Operasi pabrik ini akhirnya terbongkar saat polisi menggerebek pada 2009. Atas hal ini mereka dihukum;

1. Benny Sudrajat kembali dihukum mati
2. Arden Christian Sudrajat (anak pertama) dihukum 18 tahun penjara. MA menolak kasasi Arden pada 12 Mei 2012.
3. Aldo Enrico Sudrajat (anak kedua), dihukum oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan nomor 878/Pid.B/2010/PN.JKT.BAR, putusan tidak dipublikasikan.
4. Afan (peracik/DPO)
5. Victor, dihukum oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan nomor 878/Pid.B/2010/PN.JKT.BAR, putusan tidak dipublikasikan.
6. Anne dihukum oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan nomor 879/Pid.B/2010/PN.JKT.BAR, putusan tidak dipublikasikan.
7. Jimmy Hariadi dihukum oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat dengan nomor 879/Pid.B/2010/PN.JKT.BAR, putusan tidak dipublikasikan.
8. Rio

Meski demikian, vonis eksekusi mati hingga saat ini tidak juga kunjung dilakukan, dan kali ini, alasannya adalah karena terpidana mati mengajukan PK. Atas dasar itu, MA akhirnya mengeluarkan putusan di akhir tahun yang membolehkan PK hanya dilakukan sekali. (Baca: Mahkamah Agung Putuskan PK Hanya Bisa Dilakukan Satu Kali). (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*