retno-lp-marsudiJakarta, LiputanIslam.com–Menteri Luar Negeri perempuan pertama di Indonesia,Retno L. Marsudi, telah menyiapkan sejumlah gebrakan yang akan dilakukannya selama masa jabatannya. Retno yang sebelumnya menjabat sebagai Dubes RI di Belanda ini antara lain akan menunjuk perwakilan RI di Palestina dan melindungi hak-hak TKW di luar negeri.

1. Menunjuk perwakilan resmi Indonesia untuk Palestina.

Sesuai janji Presiden Joko Widodo di masa kampanye, Kemenlu menyatakan akan menunjuk perwakilan resmi Indonesia untuk Palestina. Selain itu, Menlu menyatakan akan terus berkontribusi dalam mewujudkan perdamaian di Palestina dengan mendorong two state solution.

2. Diplomat diharuskan ‘blusukan’

Menlu Retno menginstruksikan agar para dubes blusukan menemui pelbagai pihak atau lembaga potensial di negara tempat mereka bertugas sambil mengusung kepentingan nasional. Dengan demikian, tidak bisa lagi dubes berleha-leha sekadar menjalankan rutinitas di negara penempatannya.

“Namanya diplomat pejuang, kita sudah biasa blusukan. Itu yang dimaksud misalnya dengan bertemu otoritas atau pembuat kebijakan perdagangan setempat. Paling kalau untuk menjalin silaturahmi kita ngopi,” kata Menlu Retno.

3. Menerapkan diplomasi pro-rakyat.

Yang dimaksud Retno adalah diplomasi yang berkiblat kepada rakyat.

“Indonesia adalah negara besar dan akan mampu menjadi negara yang hebat. Tugas politik luar negeri ke depan adalah mendukung tujuan tersebut. Kiblatnya adalah rakyat, rakyat, dan rakyat, sehingga diplomasi kita membumi,” kata Retno.

Isu perlindungan WNI, terutama perlindungan buruh migran yang kerap diberitakan disiksa oleh majikan, sensitif bagi masyarakat di Tanah Air.

“Kita betul-betul akan lakukan yang terbaik bagi WNI. Kita belum memikirkan akan adanya perbuahan struktur untuk perlindungan, kita akan optimalkan apa yang ada melalui koordinasi internal. Perlindungan WNI juga melibatkan kementerian lain, dengan arahan tegas presiden maka koordinasi kita akan jadi jauh lebih baik,” kata Retno.

4. Menerapkan gaya diplomasi tegas dan bermartabat.

“Tegas itu tidak harus selalu konfrontatif. Dalam menjalankan ketegasan ini, yang penting tujuan kita tercapai,” ucapnya.

Mantan Dubes Indonesia untuk Belanda ini punya citra galak dalam pergaulan internasional. Koran terbesar Belanda De Telegraf menjuluki Retno ‘De Ijzeren Dame’ alias wanita besi. Itu karena dia gigih memimpin negosiasi lintas bidang Indonesia-Uni Eropa. Semasa masih dubes itu, demonstrasi aktivis Republik Maluku Selatan (RMS) yang biasanya marak di Negeri Kincir Angin pun lebih anteng.

5. Merangkul Diaspora

Para perantau alias diaspora WNI di luar negeri akan lebih dirangkul karena mereka aset berharga bangsa.

“Mereka memiliki keahlian untuk mendukung pembangunan Indonesia. Dokter kita banyak sekali di luar negeri, ada dokter, arsitek, sehingga akan menjadi baik kalau kita berkomunikasi melalui forum diaspora untuk mendukung pembangunan yang akan dilakukan Indonesia,” urai Retno.

Diperkirakan, ada 4,6 juta WNI yang tersebar mencari nafkah di mancanegara. Dari remitansi (kiriman uang ke Tanah Air) saja, sumbangan mereka pada ekonomi nasional sebesar USD 6,6 miliar.

Kemenlu mengakui, Indonesia terlambat memanfaatkan potensi diaspora. Tidak seperti China atau India yang bahkan sudah punya lembaga pemerintah khusus mengelola para perantau. “Bagi kami, diaspora adalah aset bagi diplomasi Indonesia,” tandas Retno.

6. Melibatkan berbagai elemen bangsa dalam diplomasi

Menurut Retno, agar gebrakan Kemenlu di bawah kepemimpinannya mulus, perlu dukungan seluruh pihak. “Politik luar negeri tidak bisa dilakukan hanya oleh diplomatnya. Kita juga harus melibatkan semua stakeholders,” ujarnya.

Kemenlu rencananya akan menghidupkan kembali forum coffee morning. Yakni sarasehan seminggu sekali, mengundang seluruh pihak yang berminat dan berkepentingan dengan politik luar negeri Indonesia. Ajakan ini terbuka pula bagi LSM demokrasi atau perlindungan buruh migran yang kerap berlawanan dengan Kemenlu.

Langkah ini pernah dijalankan selama era Menlu Hassan Wirajuda, tapi sempat tak diteruskan lima tahun terakhir.

“Forum-forum akan kita lakukan membahas foreign policy breakfast dengan LSM, dengan wartawan. Sekali lagi kita tidak bisa melakukan sendiri. Kita perlu kritik, kita perlu semuanya,” kata Retno berjanji. (dw/merdeka.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL