LiputanIslam.com –  Menteri Luar Negeri Oman beberapa waktu lalu menyatakan bahwa sebagaimana Ansarullah, Arab Saudi juga serius mengenai perundingan untuk mengakhiri konfrontasi di Yaman.  Kantor berita Turki, Anatolia, pernah menyebutkan bahwa Oman sedang mempersiapkan pendahuluan untuk pertemuan Putra Mahkota Saudi Mohamed bin Salman dengan delegasi Ansarullah (Houthi)  yang akan dipimpin oleh Mohammad Abdul Salam.

Sejauh ini belum ada komentar resmi dari Kerajaan Arab Saudi yang membantah ataupun mengkonfirmasi laporan-laporan media mengenai adanya perundingan rahasia antara mereka dan delegasi Ansarullah di Oman.

Terlepas dari itu, posisi kelompok pejuang Ansarullah yang berkuasa di Sanaa, ibu kota Yaman, kian hari kian menguat, baik dalam posisi berunding di atas meja maupun dalam posisi bertempur di medan laga. Apalagi setelah dunia dihebohkan oleh keberhasilan mereka baru-baru ini menembak jatuh dua mesin tempur canggih milik Saudi, satu helikopter Apache buatan AS, dan yang lain pesawat nirawak Wing Loong buatan Cina.

Dengan keberhasilan ini Ansarullah secara radikal telah menjungkir balik perimbangan kekuatan militer dalam perang Yaman. Apache tergolong helikopter terbaik di dunia, dan harga untuk varian yang paling mutakhir di antaranya ialah sekitar US$ 20 juta. Namun, mesin tempur mahal ini sekarang di Yaman rontok justru dengan misil seharga sekian ribu US$, yang dikembangkan di dalam bengkel-bengkel lokal yang terlindungi oleh gunung-gunung besar.

Perimbangan kekuatan dalam perang Yaman yang sudah mendekati tahun keenam kini lebih menguntungkan aliansi militer dan politik yang dipimpin Ansarullah dan militer Yaman yang didukung oleh Komite Rakyat. Betapa tidak, setelah meruntuhkan mitos kedigdayaan pasukan Arab Teluk -yang kaya mesin-mesin perang supercanggih-, dan melecehkan rudal Patriot yang per unitnya dihargai lebih dari US$ 5 juta, Ansarullah kini merontokkan mitos kehebatan helikopter Apache yang menjadi salah satu kebanggaan industri militer AS.

Pasukan Yaman yang melawan agresi Kerajaan Saudi dan sekutunya ditunjang oleh tiga faktor yang membuat mereka akhirnya berada pada posisi di atas angin dalam perang yang berlarut-larut di Yaman;

Pertama, rasa percaya diri, yang membuat mereka dapat bertahan sekian lama di tengah badai tekanan.

Kedua, keruntuhan kedok “legitimasi” yang selama ini digunakan Saudi dan sekutunya dalam invasi militer ke Yaman.

Ketiga, keberhasilan kubu Ansarullah menguras kekuatan finansial dan mental lawannya, terlebih setelah mereka berhasil menggempur bandara-bandara Saudi dan fasilitas minyak Aramco milik Saudi, yang notabene sumber utama kehidupan dan wibawa nasional Saudi.

Ketika pemimpin Ansarullah Sayid Abdul Malik al-Houthi mengancam akan merudal sasaran-sasaran di Israel, dan ketika kelompok ini menahan kapal Korea Selatan di Laut Merah dan kemudian melepaskan setelah memeriksanya, tak pelak ini merupakan pertanda sedang tumbuhnya satu kekuatan regional baru yang bukan hanya mampu bertindak di jalur perairan sebuah kawasan strategis, melainkan juga di udara, dan bukan hanya di angkasa Yaman dan Semenjung Arab saja, melainkan juga kawasan Teluk Persia.

Alhasil, setelah Apache dan Wing Loong tertembak jatuh di Yaman, angkasa Yaman praktis sudah menjadi zona terlarang sebagaimana daratan negara ini bagi pihak lain.

Diduga masih akan menyusul berbagai kejutan lain dari Yaman, terutama setelah Iran sebagai negara pendukung Ansarullah mengungkap berbagai jenis alutsista terbaru dan supercanggih buatannya, termasuk pesawat nirawak serta sistem defensif dan ofensifnya yang antara lain dapat melumpuhkan dan menghancurkan kapal selam.

Dengan perkembangan drastis ini, resiko setiap pesawat udara yang melanggar zona udara Yaman ialah tak dapat kembali ke pangkalan asalnya. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*