BaseMap

Warna mereh bata adalah wilayah yang dikontrol SAA (tentara pemerintah). Warna kuning adalah titik serangan senjata kimia

LiputanIslam.com — Setelah berlalu lima bulan sejak kejadian mengenaskan di Ghouta, Suriah yaitu tewasnya penduduk sipil akibat serangan senjata kimia, dan masing masing pihak baik pemerintah dan pemberontak saling menuduh sebagai pelakunya, dan Obama pernah merencanakan intervensi militer atas tuduhannya kepada Assad walau tidak memiliki cukup bukti, kini, keterangan resmi dari PBB sudah cukup untuk menunjukkan siapa dalang atas tragedi tersebut.

Inspektur Senjata (Weapons Inspectors )PBB telah menyatakan bahwa pelaku penembakan dengan senjata kimia adalah pasukan pemberontak, berikut laporannya:

 “PBB mengeluarkan pernyataan akan lemahnya tuduhan Amerika – bahwa tentara  pemerintah Suriah telah menembakkan senjata kimia. Roket yang dipergunakan [untuk menembak] adalah jenis yang hanya bisa mencapai jarak 2 mil, sementara wilayah yang dikuasai oleh Tentara Suriah lebih jauh dari lokasi jatuhnya roket tersebut yang telah menewaskan ratusan warga sipil.”

McClatchy juga melaporkan:

Sebuah tim keamanan dan tenaga ahli yang pekan ini bertemu di Washington untuk membahas masalah yang terkait, telah menyimpulkan bahwa jangkauan roket dengan gas Sarin dalam serangan yang terbesar malam itu terlalu pendek – untuk ditembakkan dengan senjata tentara Suriah dari wilayah yang relatif jauh.

Keterangan Foto: Jenis roket yang digunakan dalam serangan senjata kimia menurut temuan para peneliti.

Keterangan Foto: Jenis roket yang digunakan dalam serangan senjata kimia menurut temuan para peneliti.

Kemudian dari  laporan yang dirilis pada hari Rabu,  mengumumkan hasil penelitian mereka tentang  desain roket. Kemungkinan payload  dan lintasan yang [mungkin] terjadi menunjukkan bahwa  mustahil bagi roket tersebut ditembakkan dari dalam kawasan yang dikendalikan oleh pemerintah Presiden Suriah Bashar Assad.

Berikut ini adalah peta yang dipublish oleh Gedung Putih yang menunjukkan daerah yang berada di bawah kendali pemerintah dan pemberontak pada 21 Agustus dan lokasi serangan senjata kimia terjadi.

Dalam sebuah laporan dari badan PBB yang menangani kasus tersebut  yang berjudul “Possible Implications of Faulty U.S. Technical Intelligence,” oleh Richard Lloyd (weapons inspector) dan  Theodore Postol, seorang professor sains, tekhnologi dari Massachusetts Institute of Technology, berpendapat bahwa pertanyaan tentang jangkauan roket inilah yang menjadi bahan pertimbangan untuk melakukan intervensi militer yang sebelumnya ditekankan oleh Obama cs.

Analisis terbaru dari para peneliti kasus senjata kimia di Suriah.

Analisis terbaru dari para peneliti kasus senjata kimia di Suriah.

Dalam sebuah wawancara, Postol mengatakan dengan menggunakan analisis dasar senjata  (lihat gambar) – menunjukkan bahwa senjata itu  tidak mampu terbang 6 km dari titik pusat pada wilayah yang dikuasai pemerintah Suriah di Damaskus ke titik kejadian di pinggiran kota. Senjata itu, bahkan tidak mampu untuk terbang sejauh 3,6 kilometer jika ditembakkan dari tepi wilayah  yang dikuasai pemerintah.

Dia mempertanyakan apakah pejabat intelijen AS telah benar-benar menganalisis ketidak-mungkinan roket dengan  desain non- aerodinamis terbang begitu jauh sebelum John Kerry menyatakan pada 3 September bahwa “Kami yakin bahwa tidak ada oposisi memiliki senjata atau kapasitas untuk melakukan serangan dengan kemampuan seperti ini.”

Lloyd, yang telah menghabiskan waktu setengah tahun mempelajari senjata  dalam konflik Suriah, membantah asumsi bahwa para pemberontak kurang mampu membuat roket dibandingkan militer Suriah.

“Para pemberontak Suriah yang pasti memiliki kemampuan untuk membuat senjata-senjata ini. Saya pikir mereka mungkin memiliki kemampuan lebih dibandingkan dengan pemerintah Suriah.”

Gambar diatas adalah perbandingan analisis yng dikeluarkan oleh Gedung Putih pada tanggal 30 Agustus 2013 dengan analisis terbaru dari para peneliti kasus senjata kimia di Suriah. Keganjilan yang kemudian terkuak adalah, bahwa roket yang ditemukan di daerah Zamaika dan Ein Tarma adalah roket jatak pendek yang sudah dimodifikasi. Temuan inilah yang akhirnya memunculkan pertanyaan, “Bagaimana bisa roket seperti ini menempuh jarak begitu jauh?”

Postol pun menyindir,”Jadi untuk apa kita menghabiskan uang untuk membayar intelejen?”  (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL