LiputanIslam.com –  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau dan sejumlah pemimpin negara Eropa telah menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan memintanya supaya mengevakuasi sekira 800 anggota Helm Putih (White Helmets) yang disebut-sebut sebagai organisasi pertahanan sipil di Suriah.

Netanyahu segera memenuhi permintaan itu dengan mengirim satuan-satuan pasukan Israel untuk mengevakuasi mereka melalui daerah pendudukan Dataran Tinggi Golan ke Yordania sebagai persiapan untuk menempatkan mereka di Jerman, Inggris, dan Kanada. Kepanikan negara-negara Barat dan respon segera Israel ini tak pelak mengundang tanda tanya besar mengenai hakikat Helm Putih dan sepak terjangnya di Suriah sejak negara yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad ini dilanda pemberontakan dan terorisme selama tujuh tahun terakhir.

Rusia menyangsikan peranan Helm Putih dan menuding organisasi ini bermain di balik kasus-kasus hoax adanya serangan kimia, baik di kota Khan Sheykhoun maupun di provinsi Aleppo dan kawasan Ghouta Timur, provinsi Damaskus. Sedangkan pemerintah Suriah menyebut Helm Putih sebagai bagian dari kelompok teroris Hayat Tahrir Sham alias Jabhat al-Nusra, cabang al-Qaeda di Suriah.

Karena itu, Rusia dan Suriah mengecam operasi evakuasi ratusan anggota Helm Putih dan keluarga mereka oleh pasukan Israel yang sebelumnya justru telah menutup perbatasan di depan ribuan orang Suriah yang lari perang dan datang ke perbatasan untuk meminta perlindungan kepada Israel.

Eksploitasi aspek kemanusiaan sebagai kedok operasi intelijen bukanlah barang baru bagi AS. Badan intelijen AS pernah menyusupkan para agennya ke tengah tim investigasi PBB di Irak. Nama paling spektakuler yang mencuat dalam kasus ini adalah Scott Ritter, sosok yang kemudian tersentuh hati nuraninya untuk mengungkap kebenaran sehingga tak segan-segan mundur dari pekerjaannya dan bahkan mengungkap ketidak beresan dan tindakan-tindakan provokatif para pemimpinnya di tim itu di Irak. Menurutnya, tim ini mencari senjata-senjata destruksi massal di Irak, padahal mereka tahu persis senjata itu tak ada di Negeri 1001 Malam ini.

Ada pertanyaan yang sulit dijawab Israel, yaitu bahwa jika Netanyahu memang bersimpati kepada orang-orang Suriah dan berempati kepada penderitaan mereka lantas mengapa dia mengirim pasukan untuk memboyong ratusan anggota Helm Putih itu ke Yordania melalui wilayah Palestina pendudukan dan enggan menempatkan mereka di Tel Aviv saja, misalnya, untuk masa transit beberapa bulan sampai semua proses untuk pengiriman mereka Kanada, Jerman, dan Inggris selesai?

Jika memang memiliki rasa kemanusiaan apakah mungkin Netanyahu tidak sanggup menanggung keberadaan mereka hanya selama dua bulan saja di Israel? Dan mengapa pula Amman bersuka rela menampung mereka di Yordania? Apakah ini karena Amman juga mengetahui persis hakikat di balik misi Helm Putih di Suriah?

Trump tiba-tiba berlagak simpati kepada para anggota Helm Putih, organisasi yang didirikan oleh mantan perwira intelijen Inggris James Le Mesurier dan dengan bantuan dana jutaan Pound Sterling dari Inggris.  Mengapa lagak demikian tidak pernah dia tunjukkan untuk Jalur Gaza, Yaman, Irak, atau bahkan Suriah sendiri?  Mengenai Suriah, Trump malah mencatumkan negara ini dalam daftar tujuh negara Islam yang warganya dilarang bermigrasi atau masuk ke AS.

Dalam beberapa bulan ke depan akan banyak fakta terungkap mengenai peranan banyak negara Arab dan Barat dalam menyulut perang Suriah dan mendanai kelompok-kelompok bersenjata di Suriah, baik yang jelas-jelas teroris maupun yang dikemas dengan sebutan moderat. Peranan Helm Putih dalam perang yang mengerikan ini akan semakin terungkap. Akan terlihat motif dan sebab keberadaan permanen organisasi di berbagai kawasan yang dianggap terbelit kasus penggunaan senjata kimia.

Yang jelas, berakhirnya era Helm Putih dan kepedulian negara-negara Barat untuk mengevakuasi para anggota organisasi ini merupakan satu perkembangan spektakuler yang menjadi indikasi tak terbantahkan lagi bahwa perang Suriah sudah mendekati babak final, dan bahwa setelah tujuh tahun berjuang mati-matian pada akhirnya Pasukan Arab Suriah keluar dari perang sebagai pemenang dan berhasil mempertahan integritas negara ini. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*