LiputanIslam.com –  Drama permusuhan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali menyita perhatian dunia. Presiden AS Donald Trump yang semula mengancam akan menghancurkan Iran tiba-tiba berganti nada lunak dengan menawarkan pertemuan dirinya dengan para pemimpin Iran “kapanpun mereka menghendakinya dan tanpa prasyarat.”

Trump menggambarkan pertemuan itu dengan ungkapan; “Akan baik bagi mereka, bagi kami, dan bagi seluruh dunia, terutama jika kita dapat berbuat sesuatu yang logis dan tidak boros kertas seperti perjanjian nuklir sebelumnya.”

Lebih dari itu, Jubir Dewan Keamanan Nasional AS Garrett Marquis menegaskan bahwa AS siap mencabut sanksi terhadap Iran, memulihkan sepenuhnya hubungan diplomatik dan perdagangannya dengan Iran, serta memperkenan Iran mengembangkan teknologi dan mengembalikan ekonominya kepada tatanan baru internasional.

Mengapa AS tiba-tiba sedemikian melunak terhadap Iran? Padahal sebelumnya Trump mengancam akan membuat Iran berhadapan dengan “konsekuensi terbesar yang pernah ada dalam sejarah”,  mencegahnya dari ekspor minyak, dan meminta Saudi mendongkrak ekspor minyaknya menjadi 2 juta barel untuk menjatuhkan harga minyak.

Perlu dicatat bahwa para pejabat Iran, terutama di level keduanya, justru rmai-ramai menertawakan tawaran Trump. Mereka justru mengingatkan Trump agak menarik keputusannya keluar dari perjanjian nuklir Iran, dan menghentikan semua sanksi ekonominya terhadap Iran.

Strategi Trump tumbang secara memalukan. Dia sendiri yang semula meningkatkan gertakannya untuk menciutkan nyali Iran dan menyeretnya ke meja perundingan, tapi kemudian tiba-tiba berlagak santun sehingga bahkan terlihat bagai macan ompong. Pada dasarnya, Trump yang hanya terlatih dengan seluk beluk transaksi bisnis memang tidak akan piawai mengelola krisis dan perang.

Patut untuk selalu diingat bahwa antiklimaks intimidasi Trump terhadap Iran itu terjadi setelah dia merasa yakin bahwa percuma Iran diancam dengan embargo ekonomi, serangan militer, dan pembentukan “NATO Arab Sunni” di mana Israel malah menjadi anggotanya yang kesembilan.

Alih-alih takut, Iran malah memberi lampu hijau kepada Ansarullah (Houthi) di Yaman untuk merudal kapal-kapal perang dan tanker-tanker minyak Saudi dekat Bab al-Mandeb sebagai peringatan bagi AS dan sekutunya bahwa sebagian besar jalur pelayaran internasional dan separuh ekspor minyak di dunia berada di tangan aliansi yang dipimpin Iran, atau berada dalam jangkauan rudalnya. Jika sekarang sasarannya adalah Bab al-Mandeb maka selanjutnya adalah Selat Hormuz, dan semua ini hanyalah pemanasan sebelum badai rudal dengan berbagai jenisnya.

Trump mundur setelah Presiden Iran Hassan Rouhani mengancam AS dengan “induk segala perang” dan Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) Jenderal Soleimani mengingatkan bahwa AS boleh memulai perang tapi kesudahannya hanya akan ada di tangan Iran.

Patut dicatat pula bahwa Trump yang dililit kasus skandal dengan perempuan juga terlihat ringkih dalam pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Helsinki, Finlandia. Dia terlihat seolah murid di depan guru ketika menyatakan bahwa AS dalam Perang Suriah menderita kerugian US$ 70 miliar. Rugi di tangan siapa lagi kalau bukan Rusia, Suriah, Iran, dan Hizbullah? Selain itu AS juga menjadi negara yang paling dipandang sinis oleh khalayak dunia, termasuk oleh negara-negara Eropa yang notabene sekutunya sendiri.

Trump pandai berlagak jawara hanya di depan negara-negara Arab Teluk yang memang selalu menerima diktenya, merespon semua permintaan finansialnya yang provokatif, dan mendukungnya secara cuma-cuma hanya semata demi mendapat keamanan karena, sebagaimana pernah dikatakan Trump, mereka tak dapat melanjutkan kekuasaannya barang seminggu tanpa dukungan AS.

Di pihak lain, Rouhani pernah menolak delapan ajakan pertemuan dengan Trump, sebab Rouhani sudah tak percaya lagi kepada pengkhianat perjanjian, dan Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Ali Khamenei pun mengingatkan bahwa pertemuan dengan Trump hanyalah “membuang-buang waktu” belaka. Semua ini memperlihatkan betapa kontras perbedaan para pemimpin Iran dengan para pemimpin Arab yang justru berbangga atas pertemuan dengan Trump dan telah menghamburkan kekayaannya demi kepuasan AS dan Israel terkait dengan obsesi keduanya untuk menyerang Iran tanpa banyak resiko.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*