LiputanIslam.com –   Perang Yaman memasuki babak baru ketika pasukan negara ini dari kubu Ansarullah (Houthi) berhasil menggempur stasiun-stasiun pompa dan jalur pipa minyak yang membentang dari kawasan timur Arab Saudi hingga Pelabuhan Yanbu di bagian barat negara ini pada pertengahan bulan lalu.

Operasi serangan itu dilancarkan sebagai balasan Yaman terhadap agresi Saudi dan sekutunya, dan ketika ketegangan regional meningkat tajam.

Babak baru dalam serangan balasan Yaman itu bertumpu pada kehandalan pesawat nirawak, setelah gempuran rudal negara ini juga berhasil menciptakan perimbangan dalam strategi perlawanan dan dapat membatasi serangan lawan secara membabi buta ke Sanaa, ibu kota Yaman.

Operasi serangan Yaman yang menyasar bandara dan fasilitas vital di bagian Saudi dengan pesawat nirawak meningkat secara gradual hingga tercatat lima kali hanya dalam tiga minggu. Serangan terbaru di antaranya menyasar Pangkalan Udara (Lanud) King Khalid di kota Khamis Mushait dengan nirawak jenis “Qasef K2” pada Selasa 11 Juni 2019, dan kemudian disusul dengan serangan rudal cruise ke Bandara Abha.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Yaman Brigjen Yahya Sarie menjelaskan bahwa serangan ke  Lanud King Khalid menerjang “gudang-gudang senjata, radar, dan ruang kontrol Pangkalan Udara King Khalid”. Dia juga menyebutkan bahwa sasaran itu merupakan “salah satu pangkalan militer terbesar musuh dan landasan pacu dalam agresinya ke wilayah Yaman.”

Serangan ini merupakan serangan kedua kalinya ke bandara itu sejak akhir-akhir bulan Mei lalu, dan telah menyebabkan terhentinya aktivitas di sana selama beberapa jam sehingga otoritas Saudi terpaksa mengalihkan beberapa penerbangannya ke Bandara Jeddah sembari mengklaim telah menjatuhan satu nirawak penyerang.

Serangan ini kemudian disusul dengan serangan nirawak ke Bandara Abha dengan rudal cruise. Brigjen Yahya Sarie menyatakan bahwa rudal bersayap yang ditembakkan ke Bandara Abha, Arab Saudi, itu tepat mengena sasaran berupa menara pengatur lalu lintas udara (Air Traffic Controller/ATC) sehingga aktivitas penerbangan di bandara ini berhenti.

“Sistem-sistem mutakhir Amerika Serikat (AS) tak dapat mencegat rudal ini. Serangan ini membuat musuh panik dan takut, dan menimbulkan kebingungan besar dalam barisan mereka,” ujar Sarie.

Yahya Sarie juga mengingatkan warga Saudi dan lain-lain agar menjauhi bandara dan posisi-posisi militer.

Dia mengatakan, “Kami ingatkan lagi kepada segenap warga dan perusahaan-perusahaan yang bekerja di negara-negara agresor (Saudi dan sekutunya) agar menjauhi semua bandara dan posisi-posisi militer.”

Dia kemudian menegaskan, “Selama agresi kejam dan blokade zalim terhadap Yaman masih ada maka pihak agresor hendaknya yakin bahwa kami tidak akan pernah diam berpangku tangan atas semua itu.”

Sumber-sumber informasi menyatakan kepada surat kabar al-Akhbar bahwa serangan demi serangan itu menimbulkan kecemasan dan kepanikan pada Saudi, dan adanya peningkatan kualitas dan kuantitas serangan itu membuat otoritas Saudi kesulitan dalam mengambil keputusan, terutama ketika merebak kekhawatiran bahwa pasukan Yaman akan dapat meningkatkan serangannya ke berbagai sasaran vital di Saudi.

Karena itu, lanjut sumber-sumber tersebut, para petinggi Saudi segera mengontak Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat lain sekutunya agar membantu Saudi menghadapi serangan Yaman, terlebih karena masalah ini secara teknis tergolong sangat pelik.

Sejauh ini Saudi mengandalkan rencana-rencana pencegatan untuk membatasi dampak serangan nirawak Yaman, namun jika Unit Pasukan Udara Yaman berhasil mengatasi sistem pertahanan udara yang kemungkinan besar telah dipasang di seluruh penjuru Saudi maka Yaman sudah mendekati perimbangan baru yang menekan para penghuni istana Riyadh, dan inipun belum termasuk “kejutan-kejutan” lain yang bisa jadi juga akan memiliki dampak yang sama.

Dalam konteks ini, Yahya Sarie mengatakan, “Bank sasaran kami meluas dari hari ke hari, dan semua sasaran kami terdokumentasi dengan suara dan gambar… Insya Allah, dalam waktu dekat ini kami akan mencapai kaidah bandara dengan bandara, usia dengan usia, dan mata dengan mata.”

Dia melanjutkan,“Berkat anugerah Allah, kami sanggup melancarkan lebih dari satu operasi dalam satu tempo sesuai opsi yang tersedia dan pada waktu yang kami tentukan.” Dia juga mengimbau rezim Saudi dan Uni Emirat Arab agar menghentikan agreasi mereka ke Yaman sembari memperingatkan, “Jika tidak, maka kami akan memiliki kejutan-kejutan besar dan menekan, dan hal ini akan terungkap bagi mereka pada beberapa mendatang.”

Para pemimpin Saudi, demikian pula AS, memahami bahwa orang-orang Yaman berkata demikian tidak dalam rangka menganalisa keadaan , dan bahwa mereka sepenuhnya sadar akan konsekuensi dari “gerakan-gerakan” demikian jika mereka tidak bertumpu pada fakta di lapangan.

Lagi pula, sejarah konfrontasi kedua negara juga sudah mencatat bangsa pasukan dan rakyat Yaman sekali berbicara pasti juga berbuat, dan betapa gerakan Ansarullah tak pernah meningkatkan ancaman verbalnya ketika belum yakin sudah berkemampuan untuk mengimplementasikannya.

Atas dasar ini, tampak bahwa ketika para petinggi Yaman bersumbar bahwa penutupan atau pelumpuhan bandara negara-negara agresor sebagai “jalan terdekat untuk memecah blokade Bandara Sanaa” serta bandara dan pelabuhan laut Yaman lainnya bukan sekedar isapan jempol, meskipun sekarang masih terlalu dini untuk memastikan adanya korelasi hal itu dengan serangan-serangan sistematis yang terfokus pada bandara di Najran dan Jizan di bagian selatan Saudi.

Namun, berkaitan dengan bandara di Jizan, sumber-sumber militer Yaman menyatakan bahwa Riyadh telah mengalihkan sebagian aktivitas bandara itu ke ranah militer untuk membantu operasi serangan ke Yaman, sebab di sana terdapat hanggar dan ruang kontrol pesawat nirawak buatan AS dan Cina yang digunakan oleh Saudi dan UEA dalam serangannya ke Yaman, yang belakangan ini lima di antaranya tertembak jatuh di Sanaa, Sa’dah, dan Hudaydah. (mm/alakhbar)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*