LiputanIslam.com –  Ada dua peristiwa penting yang berkaitan satu sama lain dan dalam beberapa hari terakhir meramaikan media Israel.  Pertama, pernyataan pemimpin kelompok pejuang Hizbullah Lebanon Sayyid Hassan Nasrallah dalam peringatan “tahun pertama pembebasan yang kedua.” Kedua, kunjungan Menteri Pertahanan Iran Amir Hatami ke Damaskus, ibu kota Suriah.

Pada dasarnya media Israel sudah terbiasa membahas setiap pernyataan terbaru Nasrallah. Di saluran 10 TV Israel, misalnya, pengamat urusan Arab Hezi Simantov menilai pernyataan Nasrallah sebagai ancaman terhadap siapapun yang mencoba menghadang jalan Hizbullah dan sekutunya di Suriah.

Menurut Simantov, Nasrallah melontarkan ancaman demikian sementara Hizbullah melanjutkan perangnya dengan kelompok-kelompok militan di Suriah dan terus mencapai kemenangan demi kemenangan. Dia mengutip pernyataan dan janji Nasrallah: “Kami telah mengalahkan semuanya, DAESH (IS/ISIS) dan semua organisasi-organisasi ekstremis lain, dan akan terus melanjutkan perang ini.”

Orientalis Israel ini menambahkan bahwa Nasrallah telah beralih dari mentalitas berperang kepada mentalitas mengalahkan, yaitu mentalitas yang selama ini mengakar pada militer Israel, dan Nasrallah juga mengingatkan kepada siapapun agar tidak percaya kepada Amerika Serikat (AS) karena negara ini tak segan-segan menjual siapapun yang bekerjasama dengannya di Suriah dan negara manapun ketika dianggap sudah terpakai dan tak dapat dimanfaatkan lagi.

Bagaimanakah publik Israel menilai statemen-statemen Sekjen Hizbullah selama ini? Menurut hasil kajian Tel-Hai Academic College, sebanyak 80% orang Israel percaya kepada Nasrallah, sedangkan sisanya percaya kepada pernyataan para pejabat mereka sendiri.

Pada gilirannya, sebagaimana dikatakan Simantov, semakin banyak tentara Israel yang mengalami tekanan mental dan terpaksa merujuk kepada psikater yang bekerja di Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Disebutkan bahwa pada tahun 2017 hampir 44,000 anggota IDF merujuk kepada psikater.

Pernyataan-pernyataan Nasrallah berpengaruh besar pada publik Israel dan membuktikan betapa sosok yang mengenakan serban hitam sebagai tanda keturunan Rasulullah SAW ini sangat kontras dengan semua pemimpin Arab lain serta memonitoring secara intensif mentalitas orang-orang Israel.

Dua media Israel lain, saluran 11 dan 12, memandang Nasrallah telah menyerang pemerintah Israel dan AS secara bersamaan. Reporter bidang politik Yaron Avraham ketika menyimak pidato terbaru Nasrallah mengatakan, “Pemimpin Hizbullah Nasrallah baru saja menyerang Israel dan AS dalam pidatonya pada peringatan pembebasan kawasan perbatasan Lebanon-Suriah dari pendudukan IS (ISIS).”

Avraham mengutip pernyataan Sekjen Hizbullah bahwa apa yang terjadi di kawasan adalah sesuatu yang diarahkan oleh Presiden AS Donald Trump. Avraham juga menilai Israel gagal keluar dari mentalitas kalah perang melawan Hizbullah, dan menayangkan penggalan video pernyataan Nasrallah: “Trumplah yang dua hari lalu berbangga telah menghapus Al-Quds (Yerussalem) dari meja perundingan.”

Mengenai kunjungan Menhan Iran Amir Hatami ke Suriah, media Israel memberikan penekanan pada kesepakatan-kesepakatan strategis yang diteken Hatami bersama para pembuat keputusan di Damaskus.  Di sini terlihat besar sekali kecemasan Tel Aviv terhadap kunjungan dua hari Hatami ke Suriah yang, menurut media Israel, dilakukan secara tiba-tiba di saat Iran mendapat tekanan dari Rusia agar menarik pasukan dan milisinya dari Suriah sebagai persiapan untuk solusi diplomatik dengan kerjasama AS.

Dalam keterangan persnya Hatami menjelaskan bahwa kunjungannya ke Suriah bertujuan mengembangkan kerjasama bilateral di tengah suasana baru di mana Suriah “memasuki fase pembangunan dan rekonstruksi.” Menurut Fars News milik Iran, Hatami menegaskan bahwa Iran menginginkan partisipasi aktif dalam proses pembangunan dan rekonstruksi Suriah.

Roy Kis, reporter Perusahaan Penyiaran Publik Israel, Kan, mengutipkan pernyataan Hatami bahwa hubungan Teheran-Moskow belum pernah sebaik sekarang, dan ada rasa persahabatan antara keduanya di semua bidang.  Dia juga mengutip pernyataan Menhan Iran Hatami; “Hanya Damaskus dan Teheran saja yang dapat memutuskan soal keberadaan Iran di Suriah.”

Disebutkan pula bahwa strategi baru Israel bertumpu pada upaya mengusik hubungan Teheran-Moskow tapi hingga detik ini tak menunjukkan tanda akan berhasil. Moskow masih berulang kali menyebut Iran sebagai sekutu strategisnya. Ancaman AS, Inggris, dan Perancis untuk menyerang Suriah dengan dalih isu bom kimia juga tak mengusik interes Teheran-Moskow, dan karena itu kerjasama antara keduanya menambah kesiapan Suriah melawan agresi Barat dan membebaskan Idlib dari eksistensi kawanan teroris. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*