LiputanIslam.com –  Badan Intelijen Pertahanan AS dalam laporannya yang tersiar pada 19 November lalu telah mengevaluasi berbagai aspek daya pertahanan Iran dan jenis ancamannya bagi AS, setelah sebelumnya juga ada laporan serupa terbaru dari sebuah komunitas intelijen AS pada Februari 2019. Laporan badan intelijen pertahanan itu penting bagi militer dan keamanan kontemporer AS.

Badan Intelijen Pertahanan

Badan Intelijen Pertahanan (Defense Intelligence Agency/DIA) merupakan satu di antara 17 lembaga komunitas intelijen AS yang didirikan oleh AS pada tahun 1961. DIA merupakan salah satu lembaga komunitas intelijen paling strategis dan berbujet besar, yaitu sekira US$ 4 miliar. DIA didirikan oleh Robert McNamara, menteri pertahanan AS di era pemerintahan Presiden John F. Kennedy.

Misi umum komunitas intelijen adalah menghimpun dan menganalisa data dan ancaman kemudian menyerahkan data intelijen dan kontra-intelijen kepada para pemimpin AS agar diambil keputusan-keputusan yang relevan di bidang keamanan dan politik.  Pihak-pihak yang menerima data intelijen itu ialah presiden, Kongres, para pembuat kebijakan, dan tentara.

Sedangkan misi khusus DIA di antara 17 lembaga itu ialah menyediakan data-data militer untuk tentara, para pembuat kebijakan pertahanan dan program militer Kementrian Pertahanan dan komunitas intelijen untuk melindungi program dan operasi militer AS. Lembaga ini juga menyediakan identifikasi sistem senjata, serta melibatkan berbagai sumber daya yang berpengalaman di bidang sejarah dan doktrin militer, ekonomi, fisika, kimia, sejarah dunia, ilmu politik, biologi, dan ilmu komputer.

Laporan DIA

Pada 20 Juni 2019 drone Global Hawk yang merupakan drone intelijen operasional militer AS tertembak jatuh oleh Iran. Sejak itu AS meningkatkan upayanya untuk mengevaluasi ulang kekuatan rudal dan pertahanan Iran. Laporan terbaru DIA menekankan bahwa Iran telah meningkatkan penggunaan drone untuk memantau pasukan dan kapal AS di Teluk Persia serta menggunakannya sebagai platform untuk menyerang sasarannya.

Baca: Mengapa Israel Tak Ingin Berperang Atrisi dengan Iran?

Salah satu kekhawatiran para pakar strategi AS adalah terkait dengan kemampuan cyber Iran. Setelah AS menerapkan sanksi dan kampanye maksimum anti-Iran, kekuatan Iran di bidang cyber dan pengawasan digital perbatasan untuk menghalau ancaman cyber justru meningkat. Dalam laporannya, DIA mengklaim bahwa Iran sedang meningkatkan kemampuan cyber-nya untuk mengais informasi intelijen serta melancarkan serangan cyber terhadap AS dan sasaran-sasaran lain.  Hanya saja, bagian terpenting dalam laporan DIA itu adalah terkait dengan evaluasinya atas kemampuan rudal Iran.

Menurut laporan ini, pengembangan kekuatan militer Iran memiliki dua tujuan penting; pertama, melestarikan pemerintahan; kedua, mengamankan keunggulan posisinya Iran di Timteng. DIA mengakui bahwa arsenal rudal Iran di Timur Tengah “tak tertandingi” dan bahkan melampaui Israel yang merupakan sekutu strategis AS,  dan AS konsisten memberikan banyak bantuan kepada Israel dan mengembangkan kemitraan dengannya untuk memperkuat kemampuan misil ofensif dan defensifnya.

Sudah lama para intelijen AS mengerahkan segenap upaya rumitnya untuk menyabotase proyek nuklir Iran. Namun, dalam laporan terbaru DIA disebutkan bahwa meskipun upaya non-proliferasi dan sanksi untuk menghadang kemajuan militer Iran sudah berjalan sekian dekade proyek itu ternyata terus berkembang sehingga Iran sekarang bahkan dapat menyerang Israel dan Arab Saudi dengan rudal berjarak jelajah 2000 kilometer.

Baca: Iran Ciptakan Timteng Baru?

Menurut DIA, untuk menutupi kelemahannya di angkatan udara, Iran mengembangkan program rudal balistik sebagai kekuatan pencegah serangan musuh-musuhnya di kawasan, terutama AS, Israel, dan Saudi.

Tentang ini Direktur DIA Robert Ashley mengatakan, “Iran semakin merasa berada di ambang pencapaian tujuannya. Iran telah bermain dengan kartu-kartunya dalam berbagai peristiwa semisal ketergulingan pemerintahan Saddam di Irak, pemberontakan di Suriah, kemunculan dan kekalahan ISIS, dan Perang Yaman.”

Salah satu hal yang mencemaskan AS adalah berakhirnya embargo senjata Iran pada tahun 2020. Setelah keluar dari JCPOA, Presiden AS Donald Trump melakukan segala cara untuk mendorong Iran agar ikut keluar dari perjanjian nuklir tahun 2015 ini. Tujuan Trump ialah menggalang konsensus global anti-Iran, terutama konsensus lima negara anggota Dewan Keamanan PBB.

Di era kepresidenan Barack Obama, lima negara itu sejalan dengan AS dalam penerapan sanksi senjata terhadap Iran. Namun, setelah resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2231 diratifikasi pada tahun 2015 kemungkinan akan adanya konsensus seperti itu lagi sangatlah minim, terutama setelah dalam dokumen keamanan nasional AS Trump mencantumkan Rusia dan Cina pada satu kelompok dengan Iran dan Korut sebagai bagian dari ancaman bagi AS. Bahkan kalaupun Inggris dan Prancis sejalan dengan AS untuk perpanjangan embargo senjata Iran, Cina dan Rusia tidak akan menyepakatinya di Dewan Keamanan.

Baca: Insiden Aramco dan Keruntuhan Hegemoni AS

Selain itu, dengan berakhirnya embargo senjata itu, Rusia dan Cina akan menyuplai sebagian persenjataan Iran sehingga menambah kerisauan AS. Menlu AS Mike Pompeo di Twitter beberapa waktu lalu menyinggung masalah ini dengan mengingatkan, “Jam terus berdetak, dan waktu embargo senjata Iran akan segera berakhir.”

Sebagian besar isi laporan DIA terkait dengan kerisauan AS ini. DIA mengingatkan bahwa kekuatan militer Iran akan meningkat drastis setelah sanksi senjata Iran dicabut pada tahun 2020. Dalam catatan DIA, Iran memiliki tank-tank era Uni Soviet tahun 1970-an serta beberapa jenis jet tempur lama. Jika embargo senjata Iran dicabut maka dengan cepat Iran akan dapat meng-upgrade senjata-senjata usang itu.

Di sisi lain, doktrin militer AS bertumpu pada penguasaan atas zona udara lawan. Cara ini sangat efektif untuk menghemat biaya dan resiko pertempuran. Sedangkan pertempuran darat difokuskan pada penguatan pasukan proksi. Namun, doktrin militer AS ini menjadi tak berkutik ketika berhadapan dengan kemampuan rudal dan strategi militer Iran.

Tentang ini laporan DIA menyebutkan bahwa strategi konvensional Iran pertama adalah pencegahan dan kemampuan merespons serangan. Tapi jika pencegahan gagal, maka Iran akan memajukan kekuatannya dengan menimpakan kerugian besar pada lawannya. Dan dengan menggunakan semua potensinya yang mencakup perang asimetris, Iran akan membangun kembali kekuatan preventifnya. (mm/alwaght)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*