Washington, LiputanIslam.com–Media AS New York Times merilis sebuah artikel mengenai konflik dan kelaparan di Yaman. Namun, beberapa jam setelahnya, Facebook menghapus unggahan tersebut yang telah dibagikan oleh ribuan pembaca di laman mereka.

Dalam artikel itu, New York Times  memasang sejumlah foto anak Yaman yang kurus kering karena kelaparan. Beberapa anak terlihat menangis. Beberapa lainnya terlihat lesu.

Salah satu foto memperlihatkan seorang anak perempuan berusia 7 tahun bernama Amal. Wajahnya menatap ke samping, daging tubuhnya sangat tipis sehingga tulang-tulangnya terlihat menonjol.

Puluhan ribu pembaca membagikan artikel itu di Facebook, namun beberapa dari mereka mendapat pesan peringatan bahwa unggahan itu tidak sesuai dengan standar komunitas Facebook. Unggahan itu pun dihapus selama beberapa jam.

Pada Jumat (26/10/18), pihak Facebook memberikan penjelasan atas isu ini.

“Seperti penjelasan standar komunitas kami, kami tidak mengizinkan foto anak telanjang di Facebook, tetapi kami tahu ini adalah foto penting yang bermakna secara global,” kata jubir Facebook dalam sebuah pernyataan.

“Atas dasar ini, kami mengembalikan unggahan yang kami hapus,” tambahnya.

Kolumnis dan pengamat politik Mike Shedlock pun mengkritik standar penyensoran Facebook. Ia menyayangkan betapa media raksasa ini butuh waktu berjam-jam untuk menyadari kesalahan mereka dalam menghapus foto penting tentang dampak perang di Yaman.

Menurut Shedlock, foto-foto ini mengungkap hipokritas AS yang menyokong rezim Arab Saudi dalam agresi militer di Yaman.

Facebook seharusnya mendukung dan mempromosikan foto itu, alih-alih melarangnya.

“[Kali ini] kita mendapat sensor sementara. Lain kali, [penyensoran] bisa jadi tidak sementara,” imbuhnya. (ra/mintpress)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*