Dr. Abdul Muta'ali ulama muda NU

Dr. Abdul Muta’ali ulama muda NU, foto: Yan Wibisono

Jakarta, LiputanIslam.com — Nahdlatul Ulama, sebagai ormas Islam moderat telah mengambil langkah-langkah nyata guna menangkal penyebaran ideologi ISIS di Indonesia. Dr Abdul Muta’ali ulama muda NU,  yang merupakan Sekretaris Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, memberikan kajian seputar penyimpangan ISIS di Masjid Al-Bayyinah, Jakarta Selatan, pada Selasa, 26 Agustus 2014.

Dari laporan Abu Hasan, narasumber Liputan Islam, kajian dimulai setelah dilangsungkan shalat Dhuhur berjamaah. Ia berbicara terkait  isu yang masih hangat dan banyak diperbincangkan di berbagai media, yaitu bahaya ISIS dan radikalisme agama. (Baca juga: Aparat Gerebek dan Tangkap Terduga Teroris di Serang)

Dr Abdul menyampaikan bahwa ISIS adalah sebuah gerakan dengan ideologi yang sangat merusak citra Islam. Selain itu, tambah dia, sebagian besar anggota ISIS berasal dari negara-negara Barat. “Mohon koreksi saya, ISIS 60% anggotanya didominasi oleh bule,” terangnya.

Bahkan, lanjut dia, anggota ISIS juga ada yang berasal dari kaum Yahudi. “Bahkan lucunya pernah ada video salah satu dari mereka yang akan menyembelih, tidak sengaja keceplosan ngomong dengan bahasa Ibrani,” ungkapnya.

Seperti yang pernah diberitakan sebelumnya, muncul dugaan kuat bahwa Abu Bakar al-Baghdadi yang mengklaim sebagai Amirul Mukminin, atau Sang Khalifah, tak lain merupakan agen Mossad yang bernama Simon Elliot. (Baca: Al-Baghdadi alias Simon Elliot, Agen Mossad)

Dilansir oleh Veteran Today, yang disebut “Elliot”  adalah rekrutan Mossad yang dilatih dalam bidang spionase dan perang psikologis, untuk menghancurkan dunia Arab dan Islam.

Edward Snowden, sebelumnya  juga pernah mengungkapkan bahwa Al-Baghdadi merupakan binaan dari intelejen tiga negara yaitu Inggris, Amerika Serikat, dan Israel. Lantas, ia memimpin organisasi teroris ISIS yang mampu menampung dan menarik segala bentuk ekstremisme dari seluruh dunia dalam satu wadah, dengan menggunakan strategi yang disebut “the hornet’s nest” atau sarang lebah. Demikian laporan somdailynews.com, 11 Juli 2014 yang mengutip media Iran Farsnews. (Baca: ISIS Dibentuk Intelejen AS, Inggris, dan Israel)

Apakah ISIS Hanya Membunuh Syiah?

Di akhir kajian, Dr. Abdul Muta’ali membuka sesi tanya jawab. Peserta yang hadir (kebanyakan bercelana gantung dan berjenggot) menanyakan berbagai hal. Misalnya, apakah ISIS memiliki hubungan dengan Amerika Serikat. Karena keterbatasan waktu, Dr. Abdul menjawab singkat. Menurutnya, ISIS dan AS memang memiliki keterkaitan.

Sebelumnya, Liputan Islam telah melaporkan pernyataan dari Hillary Clinton, mantan Menlu AS, bahwa ISIS lahir dari tangan-tangan AS. Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru HIllary Clinton “Hard Choice” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini. (Baca: Hillary Akui ISIS Diciptakan AS)

Ada lagi seorang jamaah yang menghampirinya sambil bertanya,”Ustadz, bukankah ISIS itu hanya memerangi dan membunuhi kaum Syiah?”

Dr. Abdul Muta’ali menjawab dengan tegas, “Tidak hanya Syiah, mereka juga membunuh Sunni.”

Sejak jatuhnya Mosul, salah satu kota terbesar di Irak ke tangan ISIS, berbagai kejahatan kemanusiaan dilakukan oleh teroris tersebut, tanpa mengenal agama maupun mazhab. Salah satunya adalah, membantai 500 pria dan menawan 300 orang wanita etnis Yazidi. (Baca: ISIS Bantai dan Tawan Etnis Yazidi)

Di akhir kajian, ia menutup dengan menjelaskan bahwa  ISIS bukan berdakwah tapi mendakwa. Selain itu ia juga menyebutkan bahwa ISIS bukan representasi Islam. (ba)

 

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL