LiputanIslam.com—Sekelompok dokter Swedia menilai, anak-anak dalam video yang dirilis White Helmets dan disebut sebagai ‘korban senjata kimia’ kemungkinan sudah tewas atau akhirnya mati akibat kesalahan fatal penanganan yang dilakukan White Helmets.

Pernyataan yang dirilis para dokter itu dirilis awal Maret lalu, dan kini menjadi salah satu bukti penting yang menunjukkan bahwa informasi mengenai senjata kimia di Idlib patut diragukan.

Pada Jumat (7/4) lalu, Presiden AS, Donald Trump, menyetujui serangan militer ke Suriah dengan alasan Assad telah melakukan pembantaian kepada rakyatnya sendiri. Namun video yang dijadikan alasan serangan itu memperlihatkan keterlibatan White Helmets.

Beberapa dokter asal Swedia yang tergabung dalam SWEDHR (Asosiasi Profesor dan Dokter untuk HAM) menilai bahwa tindakan medis yang diperlihatkan dalam video-video White Helmets membahayakan pasien.

White Helmets mengklaim diri sebagai organisasi relawan medis yang bekerja di Suriah untuk menolong ‘korban serangan Assad’. Mereka aktif membuat video-video seolah sedang menolong orang-orang yang menjadi korban bom.

Para dokter Swedia itu mengamati video WH yang berisi adegan mereka sedang menyelamatkan tiga anak kecil yang disebut terkena serangan senjata kimia. Di antara keanehan dalam video itu, terdengar  seorang ‘dokter’ mengatakan, “Masukkan dalam gambar [masukkan dalam rekaman film/frame] ibunya; ibunya harus di bawah dan anaknya di atasnya, hey! Pastika bahwa ibunya ada di bawah.”

Hal ini terasa aneh, mengapa di tengah adanya ‘serangan senjata kimia’ seorang dokter masih sempat memikirkan posisi anak itu di hadapan kamera?

Seperti ditulis 21centurywire.com Selain itu, tindakan penyelamatan medis yang dilakukan juga sangat berbahaya. Dr Leif Elinder mengatakan, “Setelah meneliti video tersebut, saya menemukan bahwa langkah medis yang dilakukan terhadap anak-anak itu, sebagian dari mereka sudah tidak bernyawa, aneh, non-medis, bukan penyelamatan nyawa, dan bahkan kontraproduktif dalam upaya menyelamatkan nyawa anak-anak.”

Dokter yang lain, Lena Oske, menyatakan, “Dalam rangka untuk melakukan injeksi, CPR (cardiopulmonary resuscitation) harus dihentikan dulu, dan kemudian CPR dilanjutkan segera setelah injeksi. Prosedur ini tidak terlihat dilakukan dalam video itu. …Kemungkinannya ada dua, anak yang diinjeksi itu sebenarnya sudah mati, atau akhirnya mati akibat injeksi tersebut!”

Keterangan para dokter ini semakin menambah bukti bahwa White Helmets bukanlah organisasi relawan medis seperti yang disebut-sebut media mainstream selama ini. Terlebih lagi berbagai bukti foto menunjukkan bahwa para anggota WH adalah para ‘jihadis’ Al Qaida. Namun demikian, film dokumenter White Helmets baru-baru ini mendapatkan hadiah Oscar. (dw)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL