New York, LiputanIslam.com–Dewan Keamanan PBB menggelar rapat tertutup mengenai situasi terkini di Jalur Gaza. Namun, rapat ini gagal menghasilkan persetujuan apapun untuk menghentikan serangan Israel ke kawasan pendudukan Palestina.

Pertemuan darurat DK PBB ini dilakukan selama 50 menit pada Selasa (13/11/18) sesuai permintaan dari Kuwait dan Bolivia.  Sayangnya, rapat ini berakhir tanpa adanya pernyataan konklusif dari dewan.

Gaza tengah menghadapi agresi dan serangan terburuk sejak perang 2014. Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke kawasan penduduk di sepanjang wilayah Jalur Gaza. Akibatnya, terdapat setidaknya 7 orang Palestina terbunuh dan lebih dari 30 lainnya terluka. Sementara, serangan balasan dari Hamas menyebabkan 2 orang Israel tewas di Ashkelon, dan 20 lainnya terluka.

Duta Kuwait untuk PBB, Mansour al-Otaibi, mengaku kepada wartawan bahwa “kami tidak mendapatkan solusi atas situasi di Gaza” karena perbedaan pendapat antar anggota dewan.

Mayoritas negara anggota DK PBB berpendapat bahwa badan ini “harus melakukan sesuatu”, dengan beberapa menyarankan untuk mengunjungi kawasan konflik, namun tetap saja tidak ada keputusan yang keluar.

Duta Palestina untuk PBB, Riyad Mansour, pun mengkritik DK PBB karena gagal mempertahankan tanggungjawab untuk menindak krisis Gaza. Ia mengatakan, badan ini sudah “lumpuh.”

“Ada satu negara yang tidak membiarkan diskusi terjadi di dewan,” kata Mansour, menunjuk ke AS.

“Kami ingin Dewan Keamanan memikul tanggung jawabnya terkait situasi yang mengancam perdamaian dan keamanan internasional ini. Tetapi sayangnya, Dewan Keamanan sudah lumpuh…,” tegasnya.

Mansour kemudian menyampaikan harapannya bahwa gencatan senjata di Gaza sejak hari Selasa itu akan segera berhenti. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*