Karikatur The Jakarta Post

Karikatur The Jakarta Post

Jakarta, LiputanIslam.com — Dinilai menghina simbol Islam, karikatur koran The Jakarta Post, edisi Kamis, 3 Juli lalu, menuai kecaman. Dalam edisi yang dimuat di halaman 7, dimuat karikatur dengan gambar simbol Islam dalam ukuran yang cukup besar di rubrik Opini. Karikatur tersebut menggambarkan bendera berlafaz ‘laa ilaha illallah‘ dengan logo tengkorak yang terpasang di bendera. Lafaz tersebut dipadukan dengan bendera tengkorak khas bajak laut, kemudian, tepat di tengah tengkorak, tertera tulisan ‘Allah, Rasul, Muhammad’.

Gambar tersebut memuat karikatur dalam beberapa adegan. Adegan pertama menampilkan lima orang dalam posisi berlutut dengan mata tertutup kain dalam posisi berlutut di tanah dan tangannya terikat di belakang dalam posisi ditodong senjata.

Di belakang ke lima orang itu berdiri seorang pria berjenggot serta bersorban sambil mengacungkan senjata laras panjang ke arah mereka, seolah-olah siap melakukan eksekusi.

Jika gambar tengkorak dihilangkan, maka bendera hitam dengan lafaz seperti itu adalah simbol yang dipakai oleh kelompok teroris Daulah Islam Irak dan Suriah (ISIS/ISIL). Ciri-ciri teroris tersebut pada umumnya adalah pria berjenggot, bercelana gantung, memakai penutup wajah, memekikkan takbir tiap kali hendak melakukan eksekusi, sebagaimana yang terjadi di kawasan Timur Tengah.

ISIS eksekusi warga di Salahudin, Irak.

ISIS eksekusi warga di Salahudin, Irak.

PBNU Akan Tuntut The Jakarta Post

Pengurus Besar Nahldatul Ulama (PBNU) akan menuntut Jakarta Post karena telah melakukan tindak pidana religious crime atau penodaan agama. Ketua PBNU KH Maksum Machfoedz menegaskan, organisasinya akan meminta klarifikasi kepada koran berbahasa Inggris tersebut.

Dia akan meminta apa maksud dari publikasi gambar karikatur berlafaz Tahlil, Allah, dan Muhammad itu yang disandingkan dengan gambar tengkorak yang menjadi simbol bajak laut.

“Kita harus tuntut permintaan maaf terbuka dari The Jakarta Post. Kita harus tuntut ini sebagai religious crime, urusannya sudah pidana urusannya, bukan sekadar perdata,” ujar Kyai Maksum kepada Republika Online, Senin 7 Juli 2014

Menurut dia, karikatur The Jakarta Post jelas melukai hati umat Islam. Apalagi, masyarakat Indonesia mayoritasnya merupakan kaum Nahdliyyin.

“Secara pribadi, saya gemetar melihat karikatur itu. Saya juga gemeter membaca berita itu. Tega sekali melakukan pelecehan terhadap agama mayoritas. Tentu ini harus diperkarakan,” tegas Maksum.

Tanggapan The Jakarta Post

Akibat berbagai kecaman dari berbagai pihak, The Jakarta Post akhirnya memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Dalam artikelnya yang berjudul “Apology and retraction”, 8 Juli 2014,  The Jakarta Post menjelaskan bahwa gambar itu bertujuan untuk mengkritisi penggunaan simbol-simbol agama dalam melakukan tindak kekerasan. Berikut kutipannya:

— The Editor

Permintaan Maaf dan Penarikan Berita

Kami dengan tulus memohon maaf dan menarik karikatur editorial yang terbit di halaman 7 pada koran The Jakarta Post edisi tanggal 3 Juli 2014.

Karikatur tersebut memuat simbolisme agama yang telah menyinggung.

The Jakarta Post menyesalkan keputusan yang tidak bijak ini yang sama sekali tidak bermaksud menyerang atau tidak menghormati agama manapun.

Tujuan kami adalah mengkritisi penggunaan simbol-simbol agama (khususnya bendera kelompok ISIL) dalam tindakan kekerasan secara umum, dan pada kasus ini, terhadap sesama umat Muslim. Secara khusus, dimaksudkan untuk mengkritik kelompok ISIL, yang telah mengancam untuk menyerang Ka’bah di Makkah al-Mukarromah sebagai bagian dari agenda politiknya.

— Redaksi

 

(ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL