mobil listrik karya Ricky Elson (foto:tabloidku.com)

mobil listrik karya Ricky Elson (foto:tabloidku.com)

Jakarta, LiputanIslam.com–Indonesia dinilai sulit mencapai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi karena minimnya dana riset.

“Dana yang dialokasikan untuk iptek itu hanya 0,5 persen dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara,” kata Deputi Menteri Riset dan Teknologi Bidang Pendayagunaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Pariatmono, sebagaimana dikutip Tempo (25/6/2014).

Pariatmono menyampaikan hal ini dalam lokakarya hasil Intergovernmental Panel on Climate Change Assessment Report ke-5 di Jakarta, yang berlangsung Rabu, 25 Juni 2014.

Menurutnya, tahun ini, jumlah Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan telah ditetapkan Rp 1.635,4 triliun. Dana sekecil itu (0,5% dari APBN) tak mungkin untuk mendanai seluruh sektor yang berkaitan dengan teknologi. Ia membandingkan minimnya dana pengembangan iptek dengan anggaran untuk pendidikan yang mencapai 20 persen dari APBN. “Anggaran 20 persen untuk pendidikan itu tidak memasukkan iptek karena sudah sektoral,” ujarnya.

Seretnya pengembangan iptek juga dipengaruhi oleh minimnya dana untuk riset. “Untuk penelitian itu dananya hanya Rp 30 juta per orang per tahun,” kata Pariatmono. “Jika situasinya seperti itu, tidak ada yang mau jadi peneliti di sini, dan dalam jangka panjang bisa sangat berbahaya.”

Publik tentu belum lupa kisah tragis peneliti asal Indonesia, Ricky Elson yang selama di Jepang berhasil mematenkan 14 penemuan di lembaga paten di Jepang, terutama di bidang motor listrik. Ricky sempat pulang ke Indonesia untuk mengembangkan teknologi mobil listrik. Namun setelah dua tahun di Indonesia dan berhasil membuat prototipe mobil listrik 100% buatan dalam negeri, dukungan pemerintah tak jua didapatnya. Ricky pun terpaksa kembali ke Jepang pada bulan April 2014 yang lalu.

Menurut Menteri BUMN, Dahlan Iskan, ia memanggil Ricky pulang dilatari oleh tingginya ketergantungan bangsa Indonesia terhadap bahan bakar minyak (BBM) impor. Salah satu solusi yang dilihat Dahlan adalah mengembangkan mobil listrik.

“Kalau kita terlambat mengembangkannya, kita akan terantuk lubang untuk kedua kalinya. Mobil-mobil listrik buatan asing akan membanjiri Indonesia dalam 15 tahun ke depan,” papar Dahlan.

Namun ketiadaan dukungan, antara lain masalah pendanaan, membuat karya fenomenal Ricky tidak bisa dikembangkan. (dw)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL