Sumber: liputanislam.com

Denpasar, LiputanIslam.com– Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Said Aqil Siroj mengatakan bahwa Allah Swt dalam Al-Quran memerintahkan Rasululullah membentuk suatu komunitas masyarakat yang disebut umat. Sebutan ummatan wasathan dalam Al-Quran menunjukkan bahwa Allah menekankan pada kualitas, bukan label.

“Itu karena Al Qur’an menekankan kualitas, substansi, peran bukan legal formal, bukan label, bukan papan plang nama. Yang penting kualitas, peran, kapasitas dan kapabilitas. Itulah yang ditekankan Al-Qur’an,” ucapnya saat di Denpasar, Bali, seperti dilansir NU Online, pada Selasa (20/8).

Menurutnya, jika umat Islam memegang teguh prinsip tawasuth (moderasi) dan tasamuh (toleransi), mereka akan bertahan hingga hari akhir. Sebaliknya jika tidak memiliki kedua prinsip tersebut, maka akan hilang dalam waktu yang tak lama. Tawasuth itu sendiri tidak mungkin terwujud tanpa didasari dengan kecerdasan intelektual.

Oleh karena itu tokoh-tokoh seperti Imam Syafii, Abu Hasan al-Asyari, Imam al-Ghazali hingga Hadratussyekh Hasyim Asy’ari memiliki jasa besar dalam mengembangkan prinsip tawasuth dan tasamuh. “Puncaknya wasathiyah, wasathiyah fi siyasah yaitu Hadratussyekh KH Hasyim Asyari yang cerdas, genius menggabungkan antara iman dan nasionalisme,” ungkapnya.

Bahkan slogan Hubbul wathan minal iman (cinta tanah air adalah bagian iman) yang dikeluarkan Hadratussyekh Hasyim Asy’ari inilah yang kemudian menjadi inspirasi berharga bagi lahirnya konsep Islam Nusantara, yakni Islam yang harmonis dengan budaya.

Baca: KH Said Aqil Siroj: Nasionalisme Bagian Dari Iman

“Islam yang kita bangun di atas fondasi budaya, infrastruktur budaya maka budaya akan menjadi lestari, Islamnya pun menjadi kuat yang tidak mungkin mudah luntur atau mudah bergeser karena sudah menyatu dengan budaya,” tambahnya. (aw/NU/tribun).

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*