Iraqis look at books on al-Mutanabi Street (AP Photo/Karim Kadim)

Iraqis look at books on al-Mutanabi Street (AP Photo/Karim Kadim)

LiputanIslam.com — Sekilas sulit diterima dengan akal sehat, jika melihat aksi-aksi keji yang dilakukan oleh kelompok teroris transnasional Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Dalam aksinya, yang dijadikan sasaran kekejaman bukan hanya tentara, tetapi juga warga sipil yang tak berdosa. Mengeksekusi sesama manusia pun masih belum cukup, ISIS juga sangat ‘ringan tangan’ dalam menghancurkan masjid, gereja, situs bersejarah, hingga perpustakaan.

Mosul, merupakan salah satu kota terbesar di Irak, yang penduduknya mayoritas bermazhab Ahlussunah. Daerah ini pernah menjadi tempat pertempuran yang sengit selama invansi Amerika Serikat (AS) di tahun 2003, dan di sini pula, pernah terjadi baku hantam yang menewaskan putra Saddam Hussein, Uday dan Qusay. Pada masa invansi AS, kerap terjadi penjarahan di seluruh Irak, baik itu penjarahan pada perpustakaan maupun peninggalan-peninggalan bersejarah yang berada di museum. Sehingga, banyak penduduk yang menyelamatkan dan menyimpan buku-buku dan manuskrip yang usianya ratusan tahun di rumah masing-masing untuk menghindari penjarahan.

Setelah Irak mulai kondusif, orang-orang kaya Irak membeli kembali buku-buku tersebut dari warga, dan mengembalikannya ke Perpustakaan Pusat Mosul. Karenanya, perpustakaan ini masih menyimpan ribuan buku-buku, seperti cerita anak-anak, puisi, filsafat, olahraga, kesehatan, budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi, hingga manuskrip-manuskrip kuno.

Menurut keterangan mantan asisten direktur perpustakaan Qusay Al-Faraj, Perpustakaan Pusat Mosul ini didirikan pada tahun 1921, yang bertepatan dengan kelahiran ‘Irak modern’. Koleksi yang tak kalah menarik di perpustakaan ini adalah naskah-naskah yang berasal dari abad ke-18, buku-buku dari era Kekaisaran Ottoman, koran-koran Irak di awal abad ke-20, beberapa barang antik seperti astrolabe dan pasir kaca yang digunakan pada jaman Arab kuno.

Namun pada 22 Februari 2015 dilaporkan, sekitar 8.000 buku kuno dan manuskrip yang disimpan di Perpustakaan Pusat Mosul telah dibakar oleh ISIS. Alasannya, karena buku-buku itu dinilai akan memicu perilaku syirik/ menduakan Allah.

“Buku-buku ini berisi tentang pembangkangan terhadap Allah, itulah sebabnya dibakar,” jelas sumber yang menirukan ucapan militan kepada The Associated Press (AP).

“Militan ISIS mengebom Perpustakaan Pusat dengan menggunakan bom rakitan,” ujar Ghanim al-Ta’an, direktur perpustakaan. Mereka telah mencoba untuk menghentikan ISIS, tetapi gagal.

“900 tahun yang lalu, buku-buku dari seorang filosof Arab, Averroes dikumpulkan dan dibakar di depan matanya. Salah satu muridnya menangis tatkala melihat kejadian itu. Averroes menyatakan kepada muridnya, bahwa gagasan-gagasan memiliki sayap. Tapi hari ini, saya menangis atas situasi yang menimpa kami,” ujar Rayan al-Hadidi, seorang aktivis dan blogger asal Mosul. Pembakaran ini menyebabkan kemarahan dan kesedihan warga setempat.

“Kasihan sekali. Kami mengunjungi perpustakaan pada tahun 1970-an. Tempat ini adalah salah satu landmark terbesar Mosul. Saya masih ingat potongan-potongan kertas khusus yang menunjukkan daftar buku yang disusun berdasarkan abjad,” terang Akil Kata, yang telah meninggalkan Mosul pada tahun lalu.

Pemusnahan buku-buku ini bukanlah kali pertama dilakukan ISIS. Pada awal bulan Januari lalu, mereka telah memulai aksinya, yang oleh AP disebut sebagai “misi ISIS menghancurkan musuh, yaitu ide-ide dari pihak lain.”

ISIS yang mengontrol beberapa kawasan di Irak dan Suriah, berusaha ‘membersihkan’ masyarakat dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan penafsiran mereka tentang Islam. Mereka menggeledah perpustakaan dan hanya menyisakan buku-buku Islami.

Sehari setelahnya, ISIS memasuki perpustakaan Universitas Mosul, dan membuat api unggun yang berasal dari ratusan buku-buku di hadapan para pelajar.

Seorang Professor Universitas Mosul yang menolak disebutkan identitasnya menyatakan bahwa perpustakaan yang turut dirusak antara lain adalah perpustakaan Muslim Sunni, perpustakaan Gereja Latin yang berusia 265 tahun, dan Mosul Museum Library.

Mengutip laporan dari penduduk setempat yang tinggal di dekat perpustakaan, Professor menambahkan, “Militan sering datang pada malam hari dan mengangkut barang-barang ke dalam truk dengan plat kendaraan yang terdaftar di Suriah. Diduga, jarahan ini dijual di pasar gelap.”

Pada bulan September, pejabat Irak dan Suriah menyatakan kepada AP bahwa militan ISIS mencoba untuk mendapatkan uang dari penjualan artefak kuno.

“ISIS muncul dan bertekad untuk mengubah wajah kota ini, dengan menghancurkan bangunan dan icon bersejarah,” sesalnya.

Sejak ISIS menguasai Mosul pada bulan Juni 2014, puluhan situs sejarah, termasuk makam Nabi Yunus as, telah dihancurkan. Seorang anggota parlemen Irak Hakim al-Zamili mengatakan, “ISIS menganggap budaya, peradaban dan ilmu pengetahuan sebagai musuh terbesar mereka.”

Al-Zamili yang memimpin Komite Pertahanan dan Keamanan Irak membandingkan kelompok ISIS dan tentara Mongol. Baghdad diserang pada di pada tahun 1258, dan perpustakaan yang mengoleksi karya sejarah, kedokteran, dan astronomi, dibuang ke Sungai Tigris. Konon, saat itu warna air sungai sampai menghitam lantaran bercampur dengan tinta.

“Satu-satunya perbedaan adalah bahwa Mongol melemparkan buku-buku di Sungai Tigris, sedangkan sekarang ISIS membakarnya. Metode berbeda, tapi mentalitasnya sama,” ucap Al-Zamili. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL