Tepi Barat, LiputanIslam.com–Ahed Tamimi, seorang aktivis remaja Palestinia yang terkenal karena menampar tentara Israel, mengaku telah mengalami banyak perubahan dalam hidupnya selama dipenjara, namun ia tidak merasakan penyesalan apapun.

Remaja berusia 17 tahun itu ditangkap pada Desember tahun lalu setelah viralnya sebuah video yang memperlihatkan dirinya menampar tentara Israel dalam sebuah razia di desa Nabi Saleh, Tepi Barat.

Tamimi dijatuhkan 12 tuntutan kejahatan, termasuk serangan, hasutan, penghalangan kepada tentara Israel, dan pelemparan batu.

Dia pun dijatuhi hukuman penjara selama 8 bulan dan denda $1.500.

Pembebasan Tamimi pada 20 Juli kemarin dirayakan oleh warga Palestina, karena ia merupakan simbol resistensi anak muda Palestina terhadap penjajahan Israel.

“Tentu saja hidup saya banyak berubah. Saya berubah banyak di dalam penjara,” katanya.

“Saya menjadi semakin fokus, semakin sadar. Penjara menuakan seseorang. Dalam satu hari kita menua 100 tahun,” imbuhnya dalam wawancara dengan AFP di halaman belakang rumahnya di desa Nabi Saleh pada Senin lalu.

Ketika ditanya apakah dia akan melakukan perlawanan yang sama kepada tentara Israel, meski dia tahu hal itu akan membuatnya dipenjara selama berbulan-bulan, Tamimi dengan yakin menjawab “ya.”

“Saya tidak melakukan hal salah yang harus saya sesali,” jelasnya. “Jika dulu saya tahu saya akan dipenjara selama 8 bulan, tentu saja saya akan tetap melakukan [penamparan] itu, karena itu reaksi yang natural kepada tentara yang datang ke rumah saya dan menembak orang-orang, menembak ke desa saya.”

Remaja perempuan itu mengaku telah memutuskan untuk belajar hukum di universitas untuk membela hak-hak rakyat Palestina di pengadilan internasional dan mengekspos isu penjajahan Israel ke seluruh dunia. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*