Sumber: tirto.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Badan Program Pembangunan PBB (United Nations Development Programs) menyebutkan masih banyak warga Indonesia yang tidak dapat akses memasak yang layak.

Hal itu didasarkan pada data tingkat kemiskinan multidimensi yang diukur melalui Multi-dimensional Poverty Index (MPI). MPI Indonesia turun 0,2 persen dari 7,2 persen pada Septermber 2018 menjadi 7 persen pada September 2019.

Baca: Bappenas Targetkan Kemiskinan di Angka 8,7 Persen

Technical Advisor Development Finance United Nations Development Programs Muhammad Didi Hardiana menerangkan, ada tiga hal yang diukur dalam MPI, yakni kesehatan, pendidikan, dan standar kehidupan.

Terdapat beberapa indikator pada tiga hal tersebut. Dari sisi kesehatan digunakan indikator nutrisi dan tingkat kematian anak. Dari sisi pendidikan digunakan indikator lama sekolah dan tingkat kehadiran di sekolah. Dari sisi standar kehidupan digunakan indokator indikator bahan bakar untuk memasak pada tingkat rumah tangga, sanitasi, air minum, kelistrikan, perumahan, dan aset rumah tangga.

Di Indonesia, indikator bahan bakar untuk memasak pada tingkat rumah tangga memiliki skor paling tinggi sebesar 5,8 persen. Hal ini berarti masih banyak rumah tangga Indonesia yang tidak dapat akses bahan bakar memasak yang layak.

“Indikator paling besar adalah tidak mendapat akses cooking fuel (bahan bakar memasak). Jadi banyak masyarakat Indonesia masih menggunakan arang, semak belukar, kayu, dan lain-lain untuk memasak,” ujarnya, Senin (14/10).

Dia menjelaskan, masih banyak masyarakat Indonesia yang memasak menggunakan bahan bakar selain gas, seperti semak belukar, kayu hingga arang. Masyarakat yang masih menggunakan ini termasuk dalam kategori miskin. (sh/republika/cnnindonesia)

 

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*