Sumber: tirto.id

Jakarta, LiputanIslam.com— Asosiasi Petani Garam (Apgasi) Jawa Barat mengatakan masih banyak garam impor yang merember ke konsumsi. Padahal, garam impor dibutuhkan sebagai garam industri.

Ketua Apgasi Jawa Barat M Taufik  menyampaikan, seharusnya garam untuk konsumsi jangan dimasuki oleh garam impor. Sebab, garam lokal menjadi tak terserap.

“Saat impor garam pada 2018, kenyataannya banyak rembesan garam impor yang seharusnya untuk kebutuhan industri tetapi merembes ke garam konsumsi,” ujar Taufik.

Baca: Indonesia Bebas Impor Garam Jika Pemerintah Berpihak pada Petambak

Taufik meminta agar pemerintah melakukan pendataan produksi, konsumsi, dan kebutuhan garam di pasar yang mencakup garam industri dan konsumsi. Selain itu, menurutnya, pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Sebab, BPS hanya menghitung data berdasarkan sampel.

“Harusnya benar-benar data riil di lapangannya seperti apa, tidak cukup hanya sampel,” kata dia.

Selain itu, dia meminta agar tata kelola garam diperbaiki dan kebijakan impor garam harus diawasi secara ketat, baik kebutuhannya maupun penyalurannya. Sebab, baru-baru ini harga garam di tingkat petani jatuh karena impor garam terlampau banyak.

Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Susi Pudjiastuti menyatakan, harga garam petani anjlok karena impor garam terlalu banyak dan merembes ke pasaran.

“Persoalan harga jatuh adalah impor terlalu banyak dan bocor. Titik. Itu persoalannya,” ucap Susi di Jakarta, Kamis (4/7).

Dia menyampaikan, harga garam di tingkat petani bisa terjaga asalkan impor garam tidak tinggi.

“Kalau diatur impornya di bawah 3 juta ton kayak tempo hari harga di petani masih bisa Rp 2.000, Rp 1.500,” ujarnya. (sh/republika/liputan6)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*