Washington, LiputanIslam.com—Sebuah dokumen yang bocor mengungkapkan bahwa pemerintah AS masih meragukan istilah “genosida” sebagai istilah yang tepat dalam menjelaskan kejahatan sistematis yang dihadapi komunitas Muslim Rohingya.

Laporan atas dokumen ini dirilis oleh perusahaan jurnalisme politik Amerika, POLITICO, pada Senin (13/8/18).

“Draf kutipan dari pernyataan [menlu AS] Pompeo diraih secara eksklusif oleh POLITICO termasuk kalimat bertanda kurung ‘disimpan untuk kepastian’… tentang bagaimana mendeskripsi serangan kejahatan kepada salah satu kelompok etnis minoritas paling rentan di Myanmar,” tulis POLITICO.

Komunitas Muslim Rohingya di Rakhine state telah menjadi target pembunuhan, pemerkosaan, dan pengusiran oleh militer Myanmar dna ekstrimis Buddha, sebuah peristiwa yang disebut PBB sebagai “contoh pembersihan etnis di buku pelajaran.”

Namun, dalam laporan POLITICO, peristiwa ini masih menjadi topik perdebatan di Gedung Putih tentang istilah yang tepat.

Saat ini, menlu AS Mike Pompeo diperkirakan akan memberikan pidato tentang isu Rohingya setelah investigasi yang dilakukan oleh Departemen Luar Negeri AS. Secara umum, menurut laporan, dia akan berusaha menjauhi kata ‘genosida’ sebagai upaya untuk lolos dari hukum internasional yang akan menuntut negaranya untuk mengintervensi.

Di sisi lain, AS tengah mempertahankan hubungan baik dengan pemerintah Myanmar.

Kampanye brutal terhadap Rohingya menyebabkan 700.000 orang lari dari kampung mereka sejak Agustus 2017 dan mencari tempat pengungsian ke negara lain.

Komunitas minoritas ini pun ditolak kewarganegaraannya oleh pemerintah Myanmar dan dicap sebagai imigran ilegal, meski komunitas ini telah hidup di Myanmar selama bergenarasi. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*