Ilmuwan Medis Iran, Masoud Sulaimani. Sumber: Presstv

Washington,LiputanIslam.com—Pada 25 Oktober tahun lalu, sebuah pesawat yang membawa profesor Iran, Masoud Soleimani, terbang menuju Amerika Serikat dalam sebuah misi penelitian. Pesawat itu dikabarkan mendarat di bandara Chicago. Satu tahun kemudian, ilmuwan spesialis sel induk telah mendekam di balik jeruji besi tanpa proses pengadilan yang adil.

Profesor dan peneliti biomedis Iran berusia 49 tahun dari Universitas Tarbiat Modares, Teheran, itu datang ke Amerika berdasarkan undangan pusat penelitian AS, Mayo Clinic di Minnesota untuk memimpin program penelitian perawatan pasien stroke. Namun, sesampainya di negara itu, ia ditahan oleh Agen Rahasia Amerika (FBI).

Jaksa penuntut di Atlanta menuduh Soleimani, yang bekerja dalam penelitian sel punca, hematologi, dan kedokteran regeneratif, bersama dengan dua mantan muridnya berkonspirasi dan berusaha mengekspor bahan biologis dari AS ke Iran tanpa izin, yang melanggar sanksi Amerika.

Kedua siswa didakwa di pengadilan dan dibebaskan usai memberikan jaminan karena mereka memegang kewarganegaraan AS.

Baca: AS Kembali Jatuhkan Sanksi Anti-Iran

Selama proses penahanan, kondisi kesehatan Soleimani dilaporkan semakin memburuk. Tak hanya itu, bahkan ibu kandungnya pun meninggal saat dirinya dipenjara tanpa mendapatkan informasi apapun.

Para aktivis media sosial telah memviralkan tagar #Free Masoud Soleimani sebagai bentuk protes terhadap kesewenang-wenangan AS terhadap ilmuwan Iran tersebut. (fd/Presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*