iran hizbollahWashington DC, LiputanIslam.com — AS menghapus Iran dan Hizbollah dari daftar teroris yang mengancam kepentingan AS. Demikian media AS Newsweek melaporkan hari Senin lalu (16/3).

Sebagaimana dilaporkan Newsweek, dalam laporannya yang disampaikan di hadapan Komisi Senat ASm baru-baru ini, Direktur National Intelligence, James Clapper, tidak memasukkan Iran dan kelompok Hezbollah dalam daftar ancaman teror terhadap kepentingan AS, meski keduanya tetap diperlakukan sebagai ancaman sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.

Laporan berjudul “Worldwide Threat Assessment of the U.S. Intelligence Communities” itu telah dipublikasikan oleh Times of Israel di tengah spekulasi Israel bahwa dibuangnya Iran dan Hizbollah dari daftar teroris karena keduanya terlibat pertempuran melawan kelompok ISIS.

Dalam laporan tahun 2014, Clapper memasukkan keduanya ke dalam kelompok teroris dengan dalih ‘keduanya terus mengancam kepentingan sekutu-sekutu AS. Hizbollah telah meningkatkan kegiatan terorisme globalnya dalam tahun-tahun terakhir ke tingkat yang tidak pernah terlihat sebelumnya sejak tahun 1990-an.”

Dalam laporan terakhir ini, Clapper hanya menyinggung Hizbollah sekali terkati dengan ancaman yang dihadapi kelompok ini dari kelompok-kelompok takfiri, seperti ISIS dan al-Nusra Front. Sedangkan tentang Iran, hanya disebutkan menjadi ancaman regional AS karena dukungannya kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Di sisi lain laporan itu justru memberikan perhatian pada keberhasilan Iran menghambat kemajuan ISIS di Irak. Iran juga dipuji karena sikapnya yang bersahabat dengan tetangga-tetangganya, khususnya Saudi Arabia.

Kelompok kajian Meir Amit Intelligence and Terrorism Information Center di Israel mengklaim, tersingkirnya Iran dan Hizbollah dari daftar ancaman teroris AS terjadi karena dua faktor, yaitu dukungan Iran atas kampanye internasional anti-ISIS serta tengah berlangsungnya perundingan program nuklir Iran.

Sedangkan Max Abrahms dari Northeastern University sekaligus anggota kelompok kajian Council of Foreign Relations, meyakini hal ini menandakan bahwa AS dan Iran tengah terlibat hubungan saling menguntungkan, setelah Iran memerangi ISIS.

“Saya rasa kita melihat sebuah ‘quid pro quo‘ (hubungan saling menguntungkan), dimana Iran membantu kontra-terorisme kita dan kita memfasilitasi ambisi nuklir mereka,” kata Abrahms.(ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*