foto: facebook

foto: facebook

Jakarta, LiputanIslam.com — Vonis menjadi 18 tahun penjara, ditambah sanksi pencabutan hak politik yang dialami Luthfi Hasan Ishaaq, telah memunculkan meme baru di media sosial. Meme tersebut, menggambarkan sosok Artidjo Alkostar, sang hakim agung sebagai hantu para koruptor.

Saat menangani kasus Angelina Sondakh, bukannya mendapat keringanan hukuman, Artidjo malah memberatkan vonis Angie, yakni dari 4 tahun 6 bulan penjara menjadi 12 tahun penjara.

Ia menilai Angie aktif meminta sejumlah imbalan dalam kepengurusan proyek-proyek di DPR, dan aktif menggiring anggaran di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga yang bersangkutan juga dikenakan denda Rp 500 juta, membayar uang pengganti Rp 12, 58 miliar, dan US$ 2,35 juta.

Lalu Muhammad Nazaruddin juga harus meradang oleh ketukan palu Artidjo. Upaya hukum Nazaruddin yang ingin meraih keadilan dari vonis 4 tahun 10 bulan di tingkat pertama, di tangan Artidjo hukuman mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu menjadi tujuh tahun.

Dari laporan Beritasatu, sejumlah data yang menunjukkan tidak sedikit koruptor yang menarik kasasi setelah mengetahui perkara mereka bakal ditangani oleh Artidjo. Contohnya, Amran Batalipu dan Neneng Sri Wahyuni, yang tidak mau bernasib seperti Angie dan Nazar.

Tak hanya kepada pelaku korupsi, Artidjo juga bersikap tegas pada gembong narkoba, Giam Hwei Liang alias Hartoni Jaya Buana. Ia menjatuhkan pidana mati kepada Hartoni, yang mengendalikan peredaran narkoba di wilayah Banjarmasin dari dalam Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Putusannya ini membatalkan putusan Pengadilan Negeri Cilacap yang menghukum Hartoni dengan 20 tahun penjara.

“Fungsi hukum yang bersifat protektif perlu diterapkan. Penerapannya tidak bisa diserahkan ke penegak hukum sepenuhnya, tetapi juga pemberdayaan masyarakat, tidak mungkin masyarakat awam. Masyarakat yang dimaksud itu adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM), pers, dan organisasi kemasyarakatan (ormas),” kata Artidjo dalam sebuah diskusi yang digelar di LBH Jakarta, beberapa waktu lalu.

Berikut ini, profil Artidjo Alkostar:

Artidjo Alkostar

Lahir: Situbondo, Jawa Timur, 22 Mei 1949

Pendidikan:
Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta (1976)
Pelatihan Advokat HAM di Universitas Columbia, AS (1989-1991)

Karier:
Dosen di FH UII Yogyakarta (1981-sekarang)
Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta (1981-1983)
Direktur LBH Yogyakarta 1983-1989
Project Officer Human Right Watch Divisi Asia, New York, AS (1983-1989)
Mendirikan Kantor Hukum Artidjo Alkostar and Associates (1989-2000)
Hakim Agung (2000-sekarang)

(ph)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL