mainstream-mediaJakarta, LiputanIslam.com–Joe Clifford, analis kebijakan luar negeri asal Rhode Island, mengaku ngeri melihat berita-berita palsu yang bertebaran di media mainstream. Contohnya di acara Lester Holt, NBC, yang baru-baru ini menyebut Bashar Assad sebagai “diktator brutal”.

“Apakah Lester tahu bahwa pada 2014 dijalankan pemilihan presiden dari beberapa partai di Suriah? Apakah dia tahu bahwa Assad memenangi pemilu dengan 88% dukungan?” tulis Clifford dalam sebuah artikel mengenai berita-berita palsu yang diciptakan media mainstream terkait isu Suriah di situs globalresearch.com.

Menurut Clifford, kebanyakan berita tentang Aleppo dikaitkan dengan “diktator brutal” yang ingin menyiksa masyarakat di kawasan tersebut. Faktanya, Aleppo terbagi menjadi dua bagian selama empat tahun. Aleppo barat dikontrol oleh pemerintah Suriah, dan Aleppo timur oleh teroris. Penduduk di Aleppo timur tidak diperbolehkan meninggalkan kawasan tersebut, dan ditembak hingga mati jika mencoba lari. “Para jihadis yang mengontrol Aleppo utara adalah para pemberontak yang memenggal kepala bocah 9 tahun dan dengan bangga memperlihatkannya ke dunia. Mereka menembakkan senapan dan membunuh orang-orang tak bersalah setiap hari selama 4 tahun ini,” tulis Clifford.

Akhirnya, dengan bantuan Ruasia dan lainnya, pemerintah Suriah membebaskan Aleppo timur dan menyelamatkan penduduknya dari teroris. Fakta ini benar-benar berbeda dengan narasi yang diberikan berita mainstream, yang mengaku mengambil bukti dari akun twitter “anonymous”, “aktivis tak bernama”, dan “White Helmets.” AS tidak punya reporter di Aleppo. “Hanya ada reporter dari negara lain seperti Vanessa Beeley (Inggris) dan Eva Bartlett (Kanada), yang benar-benar mengerti apa yang terjadi di Suriah dan memberitakannya secara jujur,” kata Clifford.

Clifford menulis, “Jika tujuanmu adalah melawan teroris di dan jihadis di Suriah, maka pembebasan Aleppo adalah kemenangan besar. Jika sebaliknya, kamu mendukung teroris dan menjatuhkan Assad, maka perebutan Aleppo merepresentasikan tragedi. Sedangkan menurut media mainstream, perebutan kembali Aleppo oleh pemerintah Suriah dan kekalahan teroris adalah sebuah tragedi.”

Clifford menilai, salah satu jurnalis terbaik menyangkut isu Timur Tengah adalah Patrick Cockburn. Tak banyak yang tahu tentangnya karena suaranya tidak lolos sensor media mainstream. Lalu, ada juga Noam Chomsky, salah satu pemikir terhebat di AS. Dia juga sudah tidak pernah lagi muncul di media mainstream karena tidak lulus sensor. Jurnalis kebijakan luar negeri lain seperti Eric Margolis, Pepe Escobar, Glenn Greenwald, dan Jeremy Scahill, mereka tidak mendapat tempat di media mainstream.

Menarik melihat bagaimana media mainstream menggambarkan bahwa aksi tentara Suriah dan Rusia melepaskan Aleppo timur dari teroris sebagai “kekerasan”, padahal ketika dulu AS menyerang kota Fallujah di Iraq pada 2004 dan mengklaim membebaskan kota dari teroris, mereka memberikan dukungan.

“Intinya, media mainstream berakting sebagai cheerleaders, dan tidak pernah bersimpati terhadap penduduk yang terbunuh di kota itu maupun di Baghdad. Lucu melihat bagaimana mereka tiba-tiba berbalik menangisi penduduk Aleppo sekarang ini.”

Dalam tulisannya, Clifford berpesan, “Jika Anda penasaran dengan kejadian-kejadian di dunia, Anda harus berusaha mencari sumber alternatif yang baik, bukannya bersandar hanya di media-media mainstream yang palsu.”(ra/globalreasearch)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL