London, LiputanIslam.com—Langkah baru pemerintah Inggris dalam menandatangani perjanjian dagang dengan negara-negara Afrika ternyata bersesuaian dengan kebijakan lama London dalam mengeksploitasi sumber daya di kawasan itu.

Demikian catatan seorang pengamat politik asal London, Rodney Shakespeare, dalam wawancara dengan Press TV pada Rabu (29/8/18).

“Inggris selalu berinvestasi seperti itu di luar negeri, tapi kita harus melihat sifat dari investasi itu,” kata Shakespeare. “Tujuannya adalah mencuri sumber daya [di Afrika] untuk kepentingan elit lokal dan (untuk) kerajaan Inggris,”

PM Inggris Theresa May, yang baru-baru ini melakukan perjalanan di Afrika Selatan, mengatakan bahwa dia ingin Inggris mernjadi investor terbesar di Afrika. Menurut Shakespeare, hal ini merupakan pengulangan propaganda lama Inggris yang bertujuan untuk menjarah kekayaan negara-negara di bawah dalih investasi asing.

“Semua propaganda yang kita dengar tentang keuntungan investasi asing pada dasarnya kebanyakan hanyalah dalih di mana sumber daya lokal akan dieksploitasi dan direnggut,” paparnya.

“Investasi asing menjadi hal yang baik jika itu membawa masuk teknologi, tapi biasanya itu hanya akan menguntungkan kelompok kecil dan untuk eksploitasi sumber daya,” imbuhnya.

Menurutnya, perjanjian dagang Inggris dengan negara-negara Afrika tidak akan berhasil menciptakan kesempatan ekonomi baru di kawasan, karena perjanjian itu tidak ada bedanya dengan mekanisme perdagangan antara Uni Eropa dan Afrika.

Sebuah laporan pada akhir 2016 menyebutkan bahwa London selalu memanfaatkan kekuatan dan pengaruhnya untuk memastikan bahwa perusahaan-perusahaan tambang Inggris mendapat akses ke sumber bahan baku di Afrika.

Menurut laporan itu, terdapat 101 perusahaan yang terdaftar di London Stock Exchange (LSE) yang mengontrol sumber daya bernilai lebih dari $1 triliun di Africa lewat keterlibatan dalam aktivitas pertambangan. (ra/presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*