foto: merdeka

foto: merdeka

Jakarta, LiputanIslam.com — Hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel, menempatkan nama Diaz Hendropriyono di deretan komisaris Telkomsel. Kemunculannya menuai gunjingan massal di internal PT Telkomsel, karena Diaz adalah anak dari mantan kepala BIN A.M Hendropriyono. Ia juga tercatat sebagai Ketua Umum Kawan Jokowi dan situs Gerak Cepat Jokowi-JK.

Diaz didapuk sebagai komisaris setelah pemegang saham Telkomsel, PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk dan Singapore Telecomunications Ltd memberikan restu. Diaz dinilai tepat untuk duduk di kursi komisaris.

“Keputusan pemegang saham orang yang tepat menuju digital company” ujar VP Corporate Communication Telkomsel Adita Irawati, seperti dilansir merdeka.com, 31 Desember 2014.

Adita meyakini, jajaran direksi dan komisaris yang terpilih adalah dream team yang akan membuat kinerja Telkomsel lebih baik. Namun dia tidak menjelaskan lebih lanjut soal proses penunjukan direksi dan komisaris Telkomsel.

Namun, tak sedikit yang mempertanyakan keputusan tersebut. Sumber di internal PT Telkomsel menuturkan, rekam jejak Diaz tidak cukup meyakinkan di bisnis sektor telekomunikasi.

“Ya jelas mempertanyakan kemampuannya di bidang telekomunikasi, kita tidak tahu pengalamannya selama ini,” ucap sumber tersebut.

Di lain sisi, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno juga mengakui, pemerintah ikut andil dalam mengatur penempatan Diaz untuk mengisi kursi komisaris di PT Telkomesel. Rini mengaku, pihaknya sudah mempertimbangkan banyak hal sebelum memutuskan.

“Kami memutuskan Diaz, memang ada pertimbangannya. Diusulkan beberapa pihak dari background beliau,” ujar Rini di Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu, 31 Desember 2014.

Rini memberi penjelasan untuk menjawab pergunjingan di internal Telkomsel terkait penunjukan Diaz. Ia menjelaskan, orang yang dipilih untuk duduk di kursi komisaris perusahaan BUMN tidak harus berasal dari sektor yang jadi lini bisnis utama perusahaan yang bersangkutan.

“Tidak harus dari core bisnis, mungkin bisa di bidang ekonominya lebih kuat dibanding bidang lainnya,” ujar Rini.

Menurut Rini, komisaris yang berasal dari bidang lain di luar core bisnis perusahaan justru akan memberi warna tersendiri. Dia juga meyakini, kombinasi ini untuk memperkuat bisnis perusahaan BUMN.

“Kami memang mengkombinasikan, itu yang diperhatikan. Sering kali juga kombinasi ahli di bidang hukum, ada kemampuan pemasaran juga,” katanya.

Dari keterangan pada struktur organisasi Kawan Jokowi, Diaz disebut sebagai ulusan Lemhannas PPRA 49 (2013), dan pemegang Master of Arts (Hawaii Pacific University) dan Master of Public Administration (Virginia Tech), kandidat Doktor (PhD) bidang Administrasi Negara di Center of Public Administration and Policy (Virginia Tech, USA). Ia pernah meraih penghargaan akademis seperti Gamma Beta Phi (2007), Phi Kappa Phi(2007), Delta Mu Delta (2002), dan Dean’s List (2002).

Saat berada di Washington, DC, Diaz sempat bekerja sebagai analis di sebuah perusahaan konsultan politik / lobbying firm, yang dipimpin oleh mantan Senator Bennett L. Johnston, dan sebagai research assistant di sebuah organisasi think tank, RAND Corporation. Beberapa usaha yang ditekuninya meliputi Arena MMA Indonesia, Best Western Bali, Amaris Hotel Pancoran, Andalusia Antar Benua (Western Union), Gold’s Gym at Kuningan. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*