Biarritz,LiputanIslam.com—Semua mata tertuju pada pertemuan G7 yang berlangsung di Prancis sejak Sabtu (24/8) lalu. Meski topik yang dibahas dalam pertemuan itu adalah persoalan kesetaraan jender dan isu lingkungan, namun fokus permasalah sedikit berubah, usai Menlu Iran, M. Javad Zarif, memutuskan hadir dalam pertemuan itu.

Kedatangan yang mengejutkan ini dianggap sebagai upaya Presiden Emmanuel Macron untuk meredakan ketegangan antara Iran dan Amerika terkait program nuklir Iran.

Pertemuan antara kedua tokoh penting itu tak dapat dihindari usai keduanya memutuskan untuk tidak bertemu selama Konferesi Timur Tengah (KTT) yang berlangsung beberapa waktu lalu.

Beberapa negara Eropa menunjukkan keinginannya untuk menjaga perjanjian nuklir Iran atau yang dikenal dengan JCPOA. Kanselor Jerman, Angela Merkel, pada Minggu (25/8), menyebut perlunya meredam ketegangan antara Iran dan AS.

Presiden Iran, Hassan Rouhani, menyebut Iran sedang berupaya menciptakan kemajuan-kemajuan untuk menyikapi segala permusuhan yang baru-baru ini dialamatkan kepada Republik Islam.

Baca: Oman Berusaha Turunkan Tensi Konflik AS-Iran

Ketegangan antara Iran dan AS semakin meningkat pasca Trump menarik AS keluar dari perjanjian nuklir JCPOA dan mulai menggelontorkan sanksi-sanksi terhadap Iran.

Saat menghadiri pertemuan G7, Trump secara tegas menginginkan upaya penurunan aktivitas nuklir dan program rudal balistik Iran. Namun, Zarif menyebut  bahwa urusan keamanan nasional adalah persoalan mutlak yang tak bisa dinegosiasikan dengan siapa pun. (fd/Presstv)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*