Alwi ShihabJakarta, LiputanIslam.com — Alwi Shihab, cendekiawan muslim terkemuka Indonesia dalam pernyataannya melalui akun twitter, menyatakan bahwa seburuk-buruknya permusuhan adalah permusuhan yang mengatasnamakan Tuhan.

“Dalam beribadah kita tidak boleh mengganggu kepentingan orang, harus ada kerendah-hatian dan kelapangan dada. Sebab kita tidak hidup sendiri,” jelasnya, seperti dikutip dari @shihabalwi, 21 Oktober 2014.

Sebagaimana diketahui, akhir-akhir ini merebak konflik horizontal di Indonesia. Misalnya, penolakan Front Pembela Islam terhadap Basuki Tjahja Purnama sebagai Gubernur DKI, karena pria yag akrab disapa Ahok itu berasal dari etnis China dan beragama Kristen. (Baca: Ahok dan Kemajemukan Bangsa)

Menurut kiasan yang disampaikan Alwi, seharusnya para putra bangsa Indonesia bergerak bersama, menjadi orang-orang yang ‘membangun jembatan, bukan merobohkannya’.

“Filosofi jembatan: mendekatkan dua tempat yang bersebrangan,” jelasnya.

“Hemat saya, tidak pada tempatnya memusuhi kelompok Kristen dan Syiah karena khawatir mereka akan merusak Islam,” tambah dia. (Baca: Ini Dia Musuh Sunni Syiah Menurut Habib Ali Jufri)

Masalah yang terjadi terhadap pemeluk agama Kristen, yang hingga kini belum memiliki titik temu adalah kasus GKI Yasmin, Bogor. Kala itu, pada tanggal 14 Februari 2008, Wali Kota Bogor Diani Budiarto mencabut Izin Mendirikan Bangunan (IMB) yang sudah dikeluarkan sebelumnya (oleh dirinya sendiri) pada 19 Juli 2006 untuk jemaat GKI Yasmin. Alasan dicabutnya, karena ada protes dan keberatan dari kelompok tertentu kepada walikota yang meminta agar pembangunan gereja dihentikan.

Akibatnya, jemaat GKI Yasmin tak bisa beribadah di lahan dan gedung yang mereka miliki secara sah. Mereka terpaksa beribadah di trotoar di dekat gereja, namun kembali ditentang warga karena dianggap menganggu ketertiban jalan.

Sedangkan tragedi Syiah Sampang terjadi pada Agustus 2012, saat itu, berdatangan massa yang melakukan tindak kekerasan kepada warga Syiah, membakar dan mengusir mereka dari kampung halamannya. Dari laporan Suara Pembaruan, setidaknya 60 unit rumah hangus terbakar, dan seorang warga tewas dibacok. Warga penganut mazhab Syiah ini dianggap sesat atau bukan Islam. (Baca: Seperti Ini Derita Warga Syiah Sampang)

Apa penyebab dari berbagai konflik tersebut?

“Banyak konflik, termasuk yang bermotif agama, terjadi karena salah persepsi, kurangnya komunikasi, dan pandangan yang cenderung picik. Iqra,” tulis Alwi. (ba)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL