Washington, LiputanIslam.com–Badan Intelijen Pusat (CIA) AS terlibat dalam upaya pembunuhan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Demikian kata seorang ahli perlawanan terorisme, Scott Bennett, dalam wawancara dengan Press TV.

Upaya pembunuhan pada Sabtu (4/8/18) lalu itu terjadi ketika Maduro tengah memberikan pidato di sebuah acara militer di ibukota Caracas. Acara yang ditayangkan di televisi itu diberhentikan setelah terdengar sebuah ledakan dari atas, yang diduga merupakan drone berbahan peledak.

Maduro kemudian menyalahkan Kolombia atas serangan tersebut.

“Saya tidak ragu bahwa nama (Presiden Kolombia) Juan Manuel Santos berada di belakang serangan ini,” tegasnya.

Beberapa jam setelah kejadian, Penasehat Keamanan Nasional AS, John Bolton, buru-buru menyangkal keterlibatan AS.

Menurut Scott Bennet, serangan tersebut hanyalah langkah lain dari CIA untuk mendorong agenda perang politik mereka di kawasan.

“Saya pikir jika kita melihat ini lebih dalam, kita akan lihat faktanya ini adalah sebuah upaya teroris oleh aktor tertentu di dalam CIA, dari dalam Kolombia, [sebuah pihak] kanan yang ekstrem yang menargetkan Maduro,” paparnya.

“Ini menjadi konfirmasi lain bahwa CIA AS adalah elemen penipu, operasi intelijen penipu yang mencoba mendorong AS ke peperangan politik yang sembrono,” catatnya.

Bennet menilai jika Maduro dapat mengungkap para aktor, asal mereka, dan metodologi mereka, dia akan semakin banyak mendapati hubungan langsung dengan komunitas intelijen CIA dan elemen pemberdaya lain yang digunakan AS kepada Venezuela.

Menurutnya, pemerintah Venezuela dapat mengungkap kejahatan ini dari beberapa detil utama seperti dengan melacak drone dan jalur penerbangannya, akun bank, dan jalur keuangan dari pihak-pihak yang terlibat dalam serangan. (ra/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*