joshua wongLiputanIslam.com — Pada saat tulisan ini dibuat, Selasa (7/10), aksi-aksi demonstrasi di Hongkong telah menyusut intensitasnya sehingga dari sebelumnya jumlah peserta demonstrasi mencapai puluhan ribu orang, kini  tinggal beberapa ratus orang saja.

Para pemimpin demonstran mengklaim hal itu tidak menunjukkan kekalahan mereka, dengan alasan bahwa para demonstan hanya perlu istirahat dan akan kembali ke jalanan ketika dibutuhkan.

Namun hal itu tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa para demontran di Hongkong ini ternyata tidak memiliki determinasi tinggi, sebagaimana, misalnya, para demonstran di Lapangan Tiananmen tahun 1989 yang mampu bertahan selama berminggu-minggu, dan baru bubar setelah tank-tank dan bayonet tentara Cina menyerang mereka. Aksi demonstrasi demonstrasi di Hongkong ini hanya berjalan seminggu lebih dan garnisun tentara Cina di Hongkong hanya diam di baraknya.

Lagipula, para ahli psikologi massa pun mengetahui bahwa antusiasme orang untuk berkumpul kembali dari keramaian sebelumnya, apalagi dengan adanya ancaman keamanan yang lebih besar, akan jauh lebih berkurang.

Yang harus dilakukan pemerintah Hongkong saat ini adalah tetap menunjukkan ketegasan dengan disertai ancaman-ancaman, namun tanpa melakukan tindakan provokasi, seperti melakukan penangkapan-penangkapan terhadap para pemimpin demonstran. Maka aksi-aksi demonstrasi pun akan dilupakan dalam beberapa hari lagi.

Terkait dengan demonstrasi di Hongkong yang menjadi perhatian publik global ini, wartawan Asia Times Tony Cartalucci menulis sebuah artikel menarik berjudul “Hong Kong’s “Occupy Central” is US-backed Sedition” di situs New Eastern Outlook pada tanggal 1 Oktober lalu. Tulisan ini mengungkap fakta-fakta menarik yang selama ini tidak pernah diungkapkan oleh media-media internasional, yaitu keterlibatan AS dalam aksi-aksi demonstrasi di Hongkong. Padahal dengan preseden keterlibatan AS dalam aksi-aksi “revolusi warna”, “revolusi bunga”, “Arab Springs” atau bahkan “gerakan reformasi”, apa yang terjadi di Hongkong bisa dengan mudah diketahui motif di baliknya.

“Tujuan AS di Hongkong sangat jelas, yaitu menjadikannya sebagai episenter dari subversi asing untuk menginfeksi daratan Cina secara lebih langsung,” tulis Cartalucci.

Untuk mengetahui apa yang terjadi di Hongkong, Cartalucci memberikan beberapa petunjuk selain slogan-slogan dan taktik yang digunakan oleh para demonstran, yang menunjukkan pola yang sama dengan aksi-aksi demonstrari dukungan AS lainnya di seluruh dunia. Petunjuk-petunjuk itu adalah mengidentifikasi para pemimpin gerakan, mengikuti aliran uang, dan mengamati respon media dan para pejabat AS atas apa yang terjadi.

“Itu semua membuka dengan pasti bahwa Washington dan Wall Street tengah sibuk membuat Hong Kong sebagai wilayah yang sangat sulit untuk diperintah Cina,” tambah Cartalucci.

Beberapa pemimpin demonstan berulangkali disebut oleh media-media AS dan internasional di bawah naungan apa yang disebut sebagai gerakan “Occupy Central”. Yang paling utama adalah Benny Tai, dosen hukum di University of Hong Kong. Selanjutnya adalah nama-nama seperti politisi Audrey Eu Yuet-mee, Kardinal Jospeh Zen Zi-kiun, pendiri Partai Demokrat Martin Lee Chu-ming, bos Next Media Jimmy Lai Chi-Ying.

Benny Tai, tulis Cartalucci, secara rutin menghadiri acara-acara yang diadakan oleh National Endowment for Democracy (NED) dan National Democratic Institute (NDI), organisasi-organisasi yang didanai Deplu AS. Bulan lalu ia berbicara di acara konperensi yang digelar Design Democracy Hong Kong, kelompok underbow NDI. Ia juga aktif di Centre for Comparative and Public Law (CCPL) University of Hong Kong yang juga didanai oleh NDI.

Daftar hadir CCPL mencatat setidaknya Benny Tai menghadiri 3 pertemuan yang digelar CCPL. Ia juga pernah memimpin sebuah proyek yang dilakukan kelompok ini.

Martin Lee, Jimmy Lai, dan Joseph Zen dipastikan sebagai pemimpin “Occupy Central” dan kolaborator Deplu AS. Martin Lee tahun ini akan terbang ke AS untuk bekerja pada proyek NED dan beberapa politisi di Washington. Sebelumnya, ia akan menjadi salah satu pembicara konperensi yang digelar NED, “Why Democracy in Hong Kong Matters”, bersama Anson Chan, tokoh penting lainnya pada gerakan demonstrasi Hongkong.

Raja media Jimmy Lai dikabarkan telah bertemu mantan Presiden Bank Dunia dan perancang Perang Irak Paul Wolfowitz bulan Juni lalu. Dalam sebuah laporan, media pemerintah Cina China Daily menulis:

“Sebuah edisi khusus Eastweek melaporkan Lai, pemilik Next Media dan Apple Daily, telah bertemu dengan Paul Wolfowitz, mantan deputi menhan kabinet George Bush. Keduanya bertemu di kapal pribadi Lai selama 5 jam bulan Mei lalu.”

Pernah menjadi duta besar AS di Jakarta, Wolfowitz, kini aktif di American Enterprise Institute, lembaga kajian yang sangat berpengaruh dalam politik luar negeri AS.

Dalam pertemuan itu Lai dikabarkan meminta bantuan Wolfowitz untuk mengamankan bisnisnya di Myanmar dengan imbalan uang tunai $75.000.

Selanjutnya ada “pemimpin pelajar” Joshua Wong. Ia telah terlibat dalam proyek NDI, “NDItech” sejak tahun 2012. Dalam sebuah artikel berjudul “In Hong Kong, Does “Change Begin with a Single Step”?,” NDI pun berusaha melambungkan nama Joshua:

“Pendiri Scholarisme Joshua Wong Chi-fung (15 tahun), telah menjadi ikon dalam gerakan ini, dan kemampuannya berhubungan dengan media massa telah diabadikan dan disebar-luaskan melalui Youtube. Melaluinya generasi muda Hongkong telah bersatu atas beberapa isu masyarakat dan menggambarkan, sebagai contoh, menyamakan MNE dengan “brainwashing” dan menyerukan teman-tema yang mengingatkan tentang gerakan pro-demokrasi Tiannanmen tahun 1989.”

Tugas utama Wong adalah menggagalkan upaya Beijing untuk membentuk institusi-insitusi Cina di Hongkong dan mempertahankan institusi-insitusi dan gaya hidup barat, termasuk sistem pendidikannya.

Audrey Eu Yuet-mee juga terlibat dalam kegiatan-kegiatan NED, secara rutin menghadiri forum-forum yang disponsori oleh NED dan subsidiarinya, NDI. Pada tahun 2009 ia menjadi pembicara sebuah acara yang digelar oleh “SynergyNet” yang juga didanai oleh NDI. Pada tahun 2012 ia juga menjadi pembicara tamu dalam acara yang diorganisir oleh Hong Kong Council of Women (HKCW), “International Women’s Day”. HKCW juga adalah LSM yang disponsori oleh NDI. (ca)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL