Washington, LiputanIslam.com–Pada Rabu lalu, tentara Israel menjatuhkan 140 bom dan rudal di Gaza, dan menewaskan setidaknya 3 warga Palestina, termasuk seorang wanita hamil dan anaknya yang berumur 18 bulan.

Foto-foto rumah korban yang dindingnya dipenuhi bercakan darah menjadi viral di internet, namun anehnya tidak ada satu pun jaringan televisi arus utama AS yang memberitakan peristiwa tragis itu.

Jurnalis CJ Werlemen, dalam artikelnya yang dimuat di Mintpress News, menulis bahwa ketika seorang warga Palestina yang mengalami penindasan bertahun-tahun melakukan kekerasan di Tel Aviv atau Yerusalem secara acak, jaringan televisi AS memberitakan peristiwa itu dengan judul yang sensasional dan di luar konteks, seperti “Teror di Tel Aviv: Warga Palestina Menusuk Pria Israel Hingga Tewas”.

Tetapi, ketika warga Palestina dibunuh secara sistematis dan massal, seperti di saat militer Israel membunuh 59 demonstran tak bersenjata di hari pembukaan kedubes  AS di Yerusalem pada Mei lalu, kematian mereka hanya dijelaskan sebagai “konfrontasi”.  Dan ketika Israel menyerang Gaza besar-besaran dan terjadi bentrokan antara militer raksasa dan penduduk sipil Palestina tak bersenjata, media AS menyebutnya sebagai “perang.”

Padahal, menurut pengamat politik Noam Chomsky, ketika Israel menggunaan jet dan kapal laut untuk mengebom kamp-kamp pengungsi, sekolah, apartemen, masjid yang tidak memiliki sistem pertahanan … “itu bukan perang, itu pembunuhan!”

Menurut Werlemen, pemberitaan media Barat terlihat sekali disensor oleh pemerintah setempat yang bekerjasama dengan rezim Israel. Contohnya, kantor berita BBC sempat melakukan kesalahan dalam laporan mengenai serangan Israel pada Rabu lalu dengan judul, “Serangan udara Israel Tewaskan Wanina dan Bayi.” Namun, dalam beberapa menit, sejumlah pejabat Israel seperti jubir kemenlu Israel, Emmanuel Nahshon, menuntut BBC mengubah judul itu “secepatnya”. Dan ternyata, BBC mengikuti perintah mereka, dan mengubah judul menjadi “Serangan udara Gaza tewaskan wanita dan anak setelah sejumlah rudal mengenai Israel”.

Dari data yang ditemukan Werlemen, tidak ada tentara Israel yang terbunuh oleh rudal-rudal yang disebutkan. Lebih jauh lagi, hanya satu tentara Israel yang tewas di saat yang sama di mana 150 warga tak bersenjata Palestina tewas dan 15.000 terluka oleh tentara Israel.

Tiadanya peliputan media AS atas serangan udara Israel terhadap Gaza, menurut Werlemen, berhubungan juga dengan selera produser dan para penonton. Jaringan-jaringan ini pada dasarnya disetir oleh motif tunggal, yaitu profit. Profit sendiri disetir oleh rating. Melihat fakta bahwa media-media ini memilih untuk tidak memberitakan kejahatan Israel, hal ini mencerminkan selera penonton Amerika yang tidak peduli dengan nyawa warga Palestina. (ra/mintpress)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*