anchorage-skyline-photoJuneau, LiputanIslam.com — Sebuah petisi penggabungan negara bagian Alaska dengan Rusia yang diposting di situs Gedung Putih sejak tgl 21 Maret lalu telah mendapatkan lebih dari 25 ribu dukungan. Agar petisi ini bisa ditindanlanjuti secara formal, diperlukan 100.000 dukungan hingga tanggal 20 April mendatang.

Petisi berjudul “Alaska Back to Russia” tersebut berisi tuntutan pemisahan negara bagian tersebut dari Amerika dan bergabung dengan Rusia. Alaska adalah negara bagian terakhir yang bergabung dengan Amerika setelah dibeli dari Rusia senilai $7,2 juta pada tahun 1867.

Petisi tersebut dirancang oleh seorang warga kota terbesar di Alaska, Anchorage, beberapa hari setelah referendum penggabungan Krimea dengan Rusia tgl 16 Maret lalu.  Untuk mendukung petisinya, warga tersebut menyertakan fakta-fakta sejarah tentang Alaska, di antaranya orang Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Alaska pada tahun 1732 adalah para awak kapal Rusia, Saint Gabriel, yang dipimpin oleh Makhail Gvozdev dan Ivan Fedorov.

Beberapa pengamat politik menganggap petisi semacam itu tidak akan terlalu berdampak politik. Namun sebagian lainnya mengingatkan untuk tidak meremehkan petisi tersebut. Bagaimana pun para penggagas petisi itu, sama dengan beberapa petisi lainnya yang menuntut pemisahan negara-negara bagian Amerika dari negara induk dan secara keseluruhan telah mendapat dukungan ratusan ribu orang, mengingatkan pemerintah dan rakyat Amerika akan basis dasar negara Amerika yang terbentuk dari penyatuan secara sukarela beberapa negara bagian (state) yang berdaulat, melalui Deklarasi Kemerdekaan tahun 1774.

Situs Gedung Putih juga mempostingkan petisi serupa yang berasal dari 29 negara bagian dari 50 negara bagian yang ada di Amerika.

“Gedung Putih setidaknya harus mulai mempertimbangkan kecenderungn baru ini,” kata Dmitry Abzalov, Wakil Direktur lembaga kajian Center for Strategic Communications.

“Sebagaimana sering terjadi, kebanyakan negara menfokuskan perhatiannya pada masalah eksternal dan mengabaikan proses separatisme di negaranya sendiri. Contohnya Spanyol dan Inggris, atau Asia Tenggara sebagai contoh. Bagi pemerintah Amerika hal ini lebih serius lagi, mereka sangat peduli dengan masalah internal seperti anggaran dan hutang asing. Ini lebih serius dari situasi di Ukraina yang warga Amerika tidak mengetahui banyak tentangnya. Kalau tidak, situasi yang sama dengan Krimea atau di Eropa kemungkinan besar akan terjadi di Amerika,” tambah Abzalov.

Jika pendukung petisi Alaska telah mencapai angka 100 ribu pada tgl 20 April mendatang, maka pemerintah Amerika harus melakukan tindak lanjut, meski hanya berupa surat balasan semata. Sebagai contoh pada tahun 2012 lalu jumlah pendukung petisi pemisahan negara bagian Texas mencapai angka 125 ribu, maka pemerintah mengirim surat penolakan pemisahan dengan alasan konstitusi yang dibentuk oleh para proklamator Amerika tidak menyebutkan tentang pemisahan negara bagian. Padahal konstitusi Amerika membuka lebar pemisahan negara-negara bagian dengan pernyataanya yang tegas menyebutkan bahwa rakyat berhak memisahkan diri jika merasa keamanan dan kebahagiaan mereka terancam.(ca/voice of russia)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL