iraq-bombing(50 Pemberontak Tewas di Anbar)

Baghdad, liputanislam.com — Sebanyak 21 orang tewas dalam rangkaian serangan bom terakhir yang terjadi di sekitar Baghdad, hari Minggu (2/2). Demikian keterangan sumber-sumber keamanan dan medis Irak. Angka itu belum termasuk 50 pemberontak Al Qaida yang tewas dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah di Provinsi Anbar.

Korban tewas ini menambah panjang daftar korban serangan-serangan teroris yang menghantam Irak setelah terjadinya konflik bersenjata di Provinsi Anbar antara militer Irak dan milisi-milisi Suni pro-pemerintah melawan kelompok-kelompok teroris terafiliasi dengan Al Qaida, sejak akhir tahun lalu. Pada hari Jumat pemerintah Irak mengumumkan korban tewas akibat serangan bom selama Januari 2014 lebih dari seribu orang.

Di kota kecil Baiji, sebuah serangan terkoordinasi terhadap kelompok milisi anti-Al Qaida menewaskan 8 orang dan melukai 17 lainnya. Selain itu sebanyak 13 orang lainnya tewas dalam serangan-serangan yang terjadi di Baghdad dan kota-kota sekitarnya, Balad, Taji, serta Mosul dan Kirkuk.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan bersama oleh kementrian kesehatan, dalam negeri dan pertahanan pada hari Jumat lalu, sebanyak 1.013 orang dinyatakan tewas akibat serngan-serngan bom yang dilakukan para teroris sepanjang Januari 2014 saja. Dari jumlah itu sebanyak 795 orang adalah warga sipil, 122 tentara dan 96 polisi.

Angka tersebut adalah yang tertinggi sejak bulan April 2008 atau ketika pasukan Amerika masih berada di Irak, saat 1.073 orang dinyatakan tewas akibat aksi-aksi kekerasan.

Mendagri Irak menuduh pemberontak teroris telah melancarkan perang terbuka terhadap Irak dan berusaha mendorong kawasan Timur Tengah menjadi arena kekacauan.

“Negeri ini tengah menghadapi perang terbuka yang dilakukan kekuatan-kekuatan haus darah yang menginginkan negeri ini menjadi kacau balau,” kata mendagri Irak dalam keterangan persnya tgl 39 Juli 2013 lalu.

Menurut data dari PBB, sepanjang tahun 2013 sebanyak 8.000 orang telah tewas di Irak akibat aksi-aksi kekerasan. Dan aksi-aksi kekerasan itu kembali merebak setelah terjadinya konflik bersenjata di Provinsi Anbar setelah pasukan pemerintah yang didudukung milisi-milisi Sunni pro-pemerintah berusaha merebut kembali kota Ramadi dan Fallujah dari tangan para teroris.(ca/press tv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL