Bill Distler, Phuoc Vinh, 1968

Bill Distler, Phuoc Vinh, 1968

Oleh: Bill Distler*

Pada tanggal 13 Desember 2015 lalu, para pemimpin Turkmenistan, Afghanistan, Pakistan, dan Wakil Presiden India bertemu di Turkmenistan, untuk melakukan ground-breaking pembangunan pipa gas alam 4 negara (yang akronimnya TAPI), dan acara ini menjadi headline di media-media papan atas India, Pakistan da n Afghanistan. Seharusnya peristiwa ini menjadi berita hangat di Amerika Serikat (AS) juga, namun ternyata tidak demikian. Bahkan Houston Chronicle, surat kabar yang berbasis di wilayah yang menjadi ‘rumah’ bagi perusahan konstruksi pipa AS juga mengabaikan berita ini. Hanya juru bicara dari Departemen Luar Negeri AS yang bicara pada Press Trust of India bahwa AS mengucapkan selamat kepada Turkmenistan dan mitra-mitranya yang telah membangun pipa gas alam. Sementara media-media AS memilih menutup mulut rapat-rapat, menganggap bahwa berita ini tidak perlu diketahui oleh warga AS.

Betapa tidak, AS telah berperang di Afghanistan selama lebih dari 14 tahun. Mungkin pertanyaan ‘apa’, ‘siapa’, ‘di mana’, ‘kapan’ dalam perang tersebut telah terjawab. Tetapi, sudahkah kita mendapatkan jawaban dari pertanyaan ‘mengapa’? Mengapa AS harus berperang di Afghanistan?

Banyak para pejuang perdamaian yang mensinyalir dari awal bahwa pipa gas alam adalah keuntungan yang diharapkan oleh aliansi serakah ini dalam perang Afghanistan. Media terus menerus mengkampanyekan sejak peristiwa 9/11 bahwa Afghanistan hanyalah negara yang memiliki batu-batuan tak berharga dan tidak bernilai ekonomis. Karenanya, mereka mengklaim bahwa perang di Afghanistan murni untuk memerangi terorisme, menyebarkan demokrasi, melindungi para wanita dan membangun negeri tersebut ke arah yang lebih baik.

Namun pada tahun 2010 New York Times melaporkan bahwa ada sumber daya mineral baru yang ditemukan di Afghanistan. Sementara artikel dari James Risen mencatat bahwa menurut pejabat AS, ada ladang mineral yang sangat besar di Afghanistan, dan tentu saja, negara ini bisa menjadi salah satu pusat pertambangan yang paling penting di dunia.

Namun sebenarnya, kekayaan alam Afghanistan bukanlah berita baru. Sejak tahun 1960, Minerals Yearbook dari Geological Survey AS melaporkan bahwa Afghanistan kaya akan gas alam, tembaga, bijih besi, emas, perak, dan permata. Afghanistan memiliki kromit yang bisa mengeraskan baja. Afghanistan memiliki barit yang bagus digunakan dalam ‘pengeboran fluida’. Tiga tahun setelahnya, dilaporkan bahwa Afghanistan memiliki cadangan gas alam yang sangat besar dan potensial. Tahun 1982, masuk laporan bahwa negara itu juga memiliki bijih besi yang melimpah dan tentu saja, ini adalah prospek yang menguntungkan bagi industri besi dan baja. Sepuluh tahun kemudian, Mineral Yearsbook kembali melaporkan dengan terperinci, bahwa cadangan bijih tembaga diperkirakan mencapai 360 MMT (juta metrik ton) dan cadangan bijih besi mencapai 1.700 MMT.

Data ini seharusnya menjadi dasar bagi para jurnalis pasca peristiwa 9/11. Hanya saja, mereka mendapatkan informasi dari pihak yang salah, sehingga media secara konsisten melaporkan bahwa Afghanistan tidak memiliki kekayaan alam apapun, selain perkebunan buah delima dan peternakan kambing/ domba.

Ada beberapa orang yang berani melawan arus mis-informasi ini dan memberitahu fakta sebenarnya kepada rakyat AS. Katakanlah Ishaq Nadiri, seorang professor dari New York University yang menulis di New York Times. Ia bilang bahwa Afghanistan pernah mengekspor gas alam ke Uni Sovyet, dan negara ini memiliki cadangan tembaga dan besi bermutu tinggi dalam jumlah yang besar.

Selain dari pipa gas, ada banyak keuntungan yang bisa didapatkan oleh para aliansi serakah ini, sehingga mereka tega melakukan pembunuhan, menjual senjata kepada kedua belah pihak yang bertikai, melakukan penyelundupan opium, dan biaya yang tinggi untuk konstruksi infrastruktur. Namun tentu saja, kekayaan mineral bisa menjadi penyebab untuk membiarkan perang berlarut-larut.

Presiden Karzai dari Afghanistan pernah disebut paranoid oleh New York Times karena ia mengatakan tujuan dari kebijakan AS adalah untuk melemahkan, bukan untuk memperkuat negaranya. Di bawah kontrol AS, tahun demi tahun di Afghanistan tidak ada perbaikan. Indeks korupsi dari Transparency International menunjukkan bahwa Afghanistan adalah negara nomor dua yang paling korup sedunia.

Laporan pada Oktober 2015 dari Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction menunjukkan bahwa lebih dari 99% dari uang pajak rakyat AS yang diperuntukkan untuk operasi di Afghanistan – digunakan untuk mendukung pemerintahan yang korup dan belanja militer. Kurang dari 1% diperuntukkan untuk rakyat paling miskin di Afghanistan, yang telah menderita akibat perang panjang selama 38 tahun. Apa cara yang paling bagus untuk mencuri kekayaan mineral Afghanistan selain menciptakan pemerintahan yang lemah dan rakyat yang kelaparan?

Pendeta Dr. Martin Luther King, Jr., dalam pidatonya “Beyond Vietnam” di Gereja Riverside pada tahun 1967 mengatakan bahwa alasan penting untuk membentuk Southern Christian Leadership Conference dan untuk bersuara menentang Perang Vietnam adalah demi ‘save the soul of America’. “Jika kita ingin menyelamatkan ‘jiwa’ dari Amerika, dan hendak memberikan secercah kebahagiaan terhadap saudara-saudara kita yang menderita di Afghanistan dan negara lainnya yang diintervensi AS, maka kita wajib untuk berhenti menjadi pemimpin perang, dan beralih menjadi pemimpin perdamaian.” (LiputanIslam.com)

*Bill is a Vietnam veteran and former squad leader in the 101st Airborne Division in Vietnam from December 1967 to September 1968. He is a member of the CPL Jonathan J. Santos Memorial Chapter of Veterans For Peace VFP-111. Article translated from Globalresearch.ca.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL